Pages

Tampilkan postingan dengan label My Short Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Short Story. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 September 2012

Buku Harian Hitam (part 1)


Kulihat dikejauhan, bayang – bayang hitam itu berdiri di atas  tiang dengan angkuhnya. Matanya merah menyala.  Kulihat giginya menyeringai kepadaku dan menghilang tertelan kegelapan. Aku merasa semakin was – was dan mempercepat langkahku. Kudengar samar – samar langkah kaki yang bergemerisik di belakangku. Bulu kudukku menegang. Semakin kupercepat langkah kakiku. Tetapi sosok itu malah semakin cepat. Kulihat di bawah terangnya rembulan, bayang – bayang itu semakin mendekat kepadaku dengan mata merahnya yang menyala  - nyala. Bayangan itu ! aku berlari dan tak kuasa menahan rasa takutku yang menjadi – jadi. Malam telah semakin gelap. Tanpa kusadari ada jurang yang mengangga lebar dan aku tak bisa menurunkan kecepatan kakiku, dan.....
Dug,, kepalaku sukses membentur jeruji besi jendela angkot. Ternyata yang tadi hanyalah mimpi buruk yang tiba – tiba singgah di dalam tidurku. Kulepas headset yang terpasang ditelingaku yang masih menyenandungkan lagu Simple Plan. Selalu saja kebiasaanku tertidur tanpa kusadari diangkot. Padahal ini sudah siang bolong dimana matahari sudah tegak di atas kepala. Hari ini aku bukan mau pulang sekolah, tetapi sekolah mengharuskan aku masuk siang karena ada ujian sekolah untuk kelas 3. Tetapi masuk siang bukanlah nikmat untuk kami, kelas 1 dan 2. Walaupun jam sekolah menjadi semakin pendek tetapi  tetap saja kita harus menghadapi ujian tengah semester. Ditambah lagi kebiasaanku yang selalu mengantuk sepanjang hari, sehingga membuatku tak ada semangat untuk pergi kesekolah.
Hampir saja tadi aku melewati sekolahku, kalo aku tidak bangun karena mimpi buruk yang membuatku  ngeri ketika mengingatnya kembali. Gerbang sekolah masih belum terlalu ramai. Kebiasaan anak – anak kalo masuk siang, pasti datangnya di pas – pasin sama bel masuk. Aku langkahkan kaki ke ruang ujianku yang berada di pojok salah satu lorong di sekolah. Kelas masih sepi dan masih segelintir anak yang telah datang. Seperti biasa Nita, sahabatku sudah duduk di bangku depan sambil  menekuni bukunya. Aku ingat kembali mata ujian hari ini, dan yang terlintas dipikiranku adalah bahasa indonesia. Dari waktu ke waktu, soal bahasa indonesia pasti seperti itu modelnya. Mencari ide pokok, kalimat utama, cerpen, pidato, berita, dan lain – lainnya. Sehingga tidak pernah buku catatanku melebihi sekitar 10 lembar dalam satu semester. Tetapi Nita ini memang sahabatku yang paling rajin. Semua mata ujian pasti dipersiapkannya dengan matang dan alhasil dia jadi sasaran anak – anak untuk jadi juru kunci jawaban.
“Hai, Nit. Belajar aja nih kerjaanmu. Aku aja enggak buka buku blas semaleman. Nanti klo gak bisa tanya kamu, ya ?” kataku sambil menguap lebar.
“Lina, kapan sih kamu gak ngantuk. Kerjaannya nguap aja. Kamu tinggal tidur aja deh nanti soalnya.” kata Nita meledekku.
“Wah, ide bagus juga tu, Nit. Dari pada aku baca soal yang berlembar – lembar dan ngebosenin, mending tidur aja. Kan ada dirimu yang mau membantu. Hehe.”
“Enggak sudi kale bantuain pahlawan ketiduran.”
Bel masukpun akhirnya berdentang dengan nyaring. Aku siapkan alat tulisku untuk ujian. Guru pengawas dengan segera masuk ke dalam kelas dan mempersilahkan kami berdoa. Ujianpun dimulai dan pengawas membagikan soalnya kepada kami. Kulihat naskah soal yang ada ditangan dan terhitung ada 13 lembar banyaknya naskah itu. Aku hanya bisa pasrah dan mengerjakan soal tersebut. Walaupun aku terkenal suka membaca, tapi ini benar – benar bukan tipe bacaan yang kusuka. Bahasa yang berbelit –belit dan penuh dengan kebingungan dipilihan jawabannya. Kalau sudah begitu, apa saja jawaban yang terbersit dan paling mungkin akan aku pilih tanpa terlalu mengkritisinya lebih lanjut, karena percuma akan membuatku semakin bingung. Ditengah – tengah kebingunganku menjawab soal, tiba – tiba ada seorang cowok yang terlambat masuk ruang ujian. Kalau aku tak salah ingat, dia adalah anak kelas lain yang terpisah sehingga masuk ke ruang ujian kelasku. Untung saja guru pengawasnya adalah orang yang terkenal baik, sehingga dia diperbolehkan langsung mengikuti ujian. Kuteruskan upayaku untuk memecahkan soal – soal tersebut kembali.
Akhirnya aku bisa mengisi semua lingkaran dilembar jawaban. Bukan berarti aku sukses dalam ujiannya karena aku saja tidak tahu itu benar atau tidak. Kulihat sekelilingku yang masih sibuk berkutat dengan soal mereka dan pandanganku jatuh kepada cowok yang terlambat tadi. Dia tertidur dengan menengkurapkan kepala dimejanya. Pikirku, cepat sekali dia mengerjakan soal – soal ini, padahal dia tadi telat hampir 15 menit lamanya. Kupandangi dirinya yang tak bergerak dan pulas dalam tidurnya. Tetapi tiba – tiba dia mengeliat terbangun dan menangkap basah tatapanku. Aku cepat – cepat memalingkan kepala menatap soalku. Rasanya malu tertangkap sedang memperhatikan orang lain yang kenal saja tidak pernah. Untuk beberapa saat aku berpura – pura sibuk dengan soalku. Tetapi karena penasaran aku lirik kembali cowok itu. Kulihat dia menatapku dengan pandangannya yang tajam dan tanpa ekspresi. Mengapa dia masih menatapku ? apakah ada sesuatu yang aneh pada diriku ? Lama kelamaan rasanya risih diperhatikan terus seperti itu, apalagi dengan orang yang tidak kita kenal dan itu berlangsung hingga bel tanda ujian pertama berakhir dibunyikan.
Aku bergegas keluar dari ruang ujian yang bagaikan sarang mata –mata. Akhirnya aku terlepas dari cowok aneh itu dan aku menghampiri Nita yang sudah keluar dari ruangan terlebih dahulu. Aku ceritakan kejadian tadi padanya dan Nita hanya bisa tertawa karena ulahku.
“Makanya, Lin. Kamu gak usah aneh – aneh deh. Salahnya sendiri orang tidur malah kamu perhatiin. Mentang – mentang sesama kaum tertidur malah naksir deh.” ledek Nita.
“Idih,,,, Nit, ngak segitunya kali diriku. Aku cuma gak ada kerjaan aja waktu itu. Jadi ngeliatin orang – orang deh. Eh, tapi ngomong – ngomong siapa  sih dia ? kok aku jarang liat cowok itu ?” kataku penasan juga sama identitas cowok itu.
“Nah, kan. Sekarang mulai tanya – tanya nama segala. Namanya Caesar. Trus klo udah tau namanya mau kamu apain ? kamu mau deketin dia ya ?” Kalo soal ledek meledek Nita emang paling jagonya. Semua hal yang menyangkut dirimu pasti dijadikan bahan ledekan olehnya. Aku hanya bisa memasang tampang cemberut dan tak mau mengubrisnya lagi. Siapa juga yang mau tahu soal cowok itu, pikirku dalam hati. 

Selasa, 06 Maret 2012

Hanya Kenangan

Pagi membangunkanku dengan bunyi tetes hujan yang berjatuhan di genting. Rasanya masih malas sekali untuk bangun dan keluar dari balik selimut. Tapi aku telah sungkan kepada pagi yang telah menunjukkan harinya sejak 1 jam yang lalu. Jam kamarku sudah menunjukkan jam 6 lebih. Untung saja hari ini aku tak harus berangkat sekolah seperti biasanya. Kubuka jendela kamar yang langsung menghadap kehamparan sawah hijau yang basah. Bagaikan permadani yang sekarang telah langka ditengah perkotaan yang telah padat bangunan. Kuhirup udara pagi yang segar dalam – dalam dan tak lupa bersyukur kepada Tuhan masih memberiku kehidupan hingga hari ini. Burung – burung berkicau dengan ributnya di sangkarnya di dahan – dahan pepohonan. Kulihat mereka sedang meminta – minta makan dari induknya yang telah bersusah payah membagi adil makanannya pada anak – anaknya hingga induknya tak dapat makanan. Begitu banyak pelajaran dan ciptaan Tuhan yang indah dipagi hari yang menyadarkan kita bahwa hidup ini takkan pernah selalu berjalan seperti yang kita harapkan.

Samar –samar kudengar seseorang memaanggil namaku dipagi ini. seseorang yang telah aku duga dari suaranya yang memang tiap minggu pagi akan memanggil – manggil namaku. Kudengar suara itu “ Hey, Lala pahlawan kesiangan. Ayo cepatlah kau bangun. Sudah jam berapa sekarang. Ayo hari ini kita tanding lagi “ kudengar suara itu setiap minggu pagi. Tetapi aku tahu hari ini, suara itu hanyalah angan – angan kosong dalam pikiranku. Aku tahu dia tak mungkin lagi ada didepan pagar rumahku, memanggil namaku tak tahu malu seperti biasanya. Rasanya berbeda tak ada lagi dia yang berteriak – teriak memanggil namaku. Padahal hari ini adalah hari istimewa baginya dan aku ingin merayakannya lagi bersamanya. Kuputuskan segera turun kebawah untuk memulai hari ini. Kulihat ruangan keluarga telah kosong tanpa seorangpun. Seperti biasa aku ditinggal orang – orang rumah sendiri. Padahal hari ini aku begitu gundah harus menjalani pagi ini sendiri. Tanpa kakiku kuperintahkan aku membuka pintu depan dan melihat tak ada siapa –siapa disana. Hanya ada rintik hujan yang tak kunjung reda sejak kemarindan hembusan samar angin membawa suasana yang semakin tak menyenangkan. Walaupun aku tahu dia tak mungkin ada lagi disana, tetap saja aku ingin memastikannya sendiri.

Kuambil 2 raket yang tergantung di dekat pintu. Kupikir aku sudah gila sekarang. Tak mungkin ada orang yang bermain bulutangkis ditengah hujan seperti ini. tetapi tetap saja aku langkahkan kaki kelapangan bulutangkis biasanya aku bermain dengan menyandang 2 raketku. Untuk siapa yang satunya lagi ? aku hanya membawanya saja walaupun aku tahu tak mungkin ada lagi yang memegang raket itu. hanya ada kenangan yang tak mungkin terulang lagi dalam raket itu. kubermain sendiri dengan raketku. Hanya ada tembok tinggi yang menjadi korban smashku yang penuh nafsu tanpa ampun, tembok yang tak bisa melawan dan diam membisu tanpa perlawanan. Mungkin dulu aku akan selalu mendapat perlawanan darinya tanpa henti sampai ada salah satu dari kita yang menyerah dan mengakui kehebatan lawannya. Aku frustasi, aku hentikan permainanku yang tak ada artinya dan kembali pulang dengan pikiran yang tak sadar sepenuhnya.

Kulihat mobil hitam yang digunakan ayah dan ibu telah terparkir di depan rumah yang mengartikan bahwa mereka telah datang. Kuhampiri ibu yang sedang berada di dapur dan menyalaminya.

“ Lala, hari ini kamu ada acara ? bisa temeni ibu datang ke acara ulang tahun teman ibu tidak ?” kata ibu.

“ maaf, Bu. Tapi hari ini aku sudah ada rencana dan tak mungkin aku melupakannya.ibu tahukan ?” kataku.

Aku memang tak berbohong, bukannya aku malas menemani ibu. Tetapi hari ini memang telah ada momen yang tak mungkin aku lupakan sampai kapanpun walaupun itu semua telah tak ada dan percuma saja.

“La, sampaikapan kau akan selalu mengingatnya. Berusahalah untuk melupakannya dan jangan mengenangnya lagi, La”

“Bu, Lala tahu kapan Lala akan berhenti. Lala tahu kapan akan bisa melupakan dan sampai kapan Lala akan terus mengenangnya. Ibu jangan khawatir ini masalah Lala”

Aku tinggalkan ibu, yang masih prihatin dengan diriku yang tak kunjung bisa melupakan momen hari ini dan selalu mengingatnya. Aku bersiap – siap pergi kesuatu tempat yang sudah 2 tahun ini selalu kukunjungi. Aku pilih pakaian yang juga tahun lalu kupakai kesana. Aku langkahkan kaki di jalan yang masih sepi dan becek karena hujan. Tak lupa aku membeli bunga yang sama seperti saat itu di toko bunga langgananku. Di sepanjang jalan, aku hanya bisa memandang langit yang kelabu. Gunung yang menjulang tinggi tertutup awan. Didepan sana kulihat pohon – pohon semakin rapat menandakan tempat tujuanku telah semakin dekat.

Aku masuk ke gerbang melengkung yang sudah sering kulewati. Mungkin jika dia hidup, dia akan bosan melihatku yang sering sekali melihatku melewatinya. Aku telusuri jalan setapak yang ada dan berhenti di tempat yang selalu aku rindukan. Aku berjongkok di depannya dan mencabuti rumput – rumput liar yang telah banyak tumbuh. Setelah semua rumput liar telah habis kucabuti, aku pejamkan mataku. Aku kenang semua yang telah terjadi 2 tahun yang lalu dan berdoa kepada Tuhan. Setelah kurasa doaku telah cukup. Aku letakkan rangkaian bunga di depan pusaranya seraya mengucapkan “ Happy Birthday, Zar. Jika kau masih hidup sekarang mungkin kita akan masih jalani 17 tahun kita bersama. Aku hanya berdoa semoga kau di tempatkan disisiNya. Maafkan aku selalu datang kepadamu. Aku harap ini kunjungan terakhirku dan takkan pernah lagi”. Aku tinggalkan pemakaman beserta seluruh kenangan yang ditinggalkannya untukku. Aku memutuskan itu hanya sebuah kenangan yang untuk terakhir kalinya, untuk hari ini dan sekarang saja aku kenang.

Kamis, 26 Januari 2012

Segalanya Tentangmu

Aku akan jujur sekarang. Aku sangat ingin bertemu dengannya. Sudah 2 tahun kita tidak bertemu perasaan ini masih tak berubah. Masih tersimpan rapi di dalam hati. Kadang merekah bahagia, kadang teriris – iris memilukan. Tanpa pernah kau tahu apa yang ku rasakan. Hanya aku dan Sang Pencipta yang mengetahui segala problematika dalam hati.


Pertama kali kita bertemu, kau seorang yang tak kuanggap. Kulirik saja, aku tak pernah. Apalagi memikirkanmu ? kau masih terlihat sebagai orang yang biasa. Semua canda tawa kita hanya hal yang biasa. Tak pernah mengetuk pintu hati yang tertutup rapat karena seseorang yang pergi dan membawa kunci hatiku.


Kesempatan itu begitu terbuang sia –sia, kalau saja aku tahu sekarang akan seperti ini, aku akan berusaha lebih mengenalmu. Saat kita terpisah oleh ruang, ku tak tahu mengapa itu malah mendekatkan kita. Aku juga tidak sadar bagaimana itu terjadi. Kita menjadi lebih dekat dalam dunia pesan. Mungkin setiap saat kita selalu bertukar kabar. Kalau bukan kamu duluan yang mengirimiku pesan ke inboxku aku akan yang lebih dulu mengirimimu kabarku. Padahal kita hanya terpisah oleh ruang, tetapi sepertinya dunia pesan kita lebih menyenangkan daripada dunia nyata kita. Setiap kali aku bertemu denganmu, aku tak bisa mengatakan apapun. Padahal tadi malam kita bercerita begitu banyak sampai inboxku penuh. Aku hanya bisa menyapa “hey”padamu. Mungkin ini akan lebih baik.


Aku senang dengan segalanya. Sekarang senyummu, juga senyumku. Sedihmu, kuharap kau membaginya denganku juga. Kau sudah menjadi bagian dalam hari –hariku. Tak terkecuali sampai saat ini. aku tak tahu bagaimana perasaanmu yang sebenarnya padaku. Tetapi aku tahu pasti apa perasaanku ini.


Tetapi, sekarang semua itu hanya kenangan. Yang terkubur dan terkadang masih muncul kepermukaan. Kau tidak sesering dulu bercerita padaku, merekahkan senyuman di hari –hariku. Itu semua karena perpisahan kita 2 tahun yang lalu. Kita jalani kehidupan kita masing – masing. Kau jalani hidupmu, begitu pula aku. tetapi tak pernah sekalipun ku terlepas dari bayang – bayang dirimu. Semakin ku ingin melupakanmu, semakin jelas pula kenangan tentangmu. Pernah kau bilang kau rindu padaku, tapi ku tak tau apa itu sungguh – sungguh.


Sekarang aku tak berani lagi mengirim pesan padamu. Aku takut aku mengetahui kau telah berubah dan membuatku kecewa. Setiap saat, kulihat tulisanmu di dunia maya menyesakkanku. Tetapi juga selalu ada rasa rindu setiap kali aku membacanya. Walaupun aku tahu setiap statusmu bukan untukku, aku selalu terpesona dengan keindahan tulisanmu. Setiap kata –kata yang kau tulisankan selalu hebat, selalu terlihat sempurna, dan menjadi kenangan tersendiri bagiku. Emmm,,,, mungkin kau tidak tau bahwa aku diam – diam melakukan ini dan aku tak berharap kau mengetahuinya.


Aku menunggu dan menunggu, agar paling tidak kau melihatku tanpa aku harus mencari – cari perhatianmu. Disetiap hariku, selalu memikirkanmu. Padahal ku tau kau mungkin tak pernah sebersitpun memikirkan aku. aku pernah membaca statusmu dan kau bercerita bahwa kau bertemu dengan seseorang yang kau tulis dalam status - statusmu. Tetapi dirimu juga seperti diriku yang hanya diam – diam melihat dia dan tersenyum karenanya. Dalam hal ini kita sama. Seperti itulah diriku, diam –diam tersenyum untukmu.


Malang, 25 Januari 2012

tiww :)

Kamis, 07 Juli 2011

My Life in My Dreams

Annyeong,,,,, aku lagi pingin posting yang geje2 nih. jadi aku akan posting sebuah karangan bebas ( kyak bahasa indonesia aja ) hehe. ni karangan mengalir begitu aja jadigak pakek dipikir. pokoknya ditulis aja deh. mungkin ni juga bisa disebut FF. So, enjoy it :)

Hey, kenalkan namaku Park Dong Yoo. Itu nama koreaku, tetapi sebenarnya aku adalah orang Indonesia. dilihat dari namanya aku masih sodaraan ma Park Dong Joo yang mungkin lebih beken dipanggil Noh Min Woo, yang main di my girlfriend is gumiho itu loo :p. Suatu hari aku menemukan cinta pertamaku saat aku menyamar menjadi seorang laki – laki disebuah sekolah. Cinta pertamaku itu adalah Yong Hwa oppa. Aku memang mencintainya diam – diam karena dia juga gak tau klo aku seorang cewek. Sedih ngak sih :’(. Tujuanku menyamar disekolah cowo tersebut tidak lain tidak bukan adalah untuk mencari kakak cowokku yang hilang entah kemana dan kabarnya dia bersekolah di sekolah tempat Yong oppa juga disana.

Setelah sekian lama aku mencari informasi di sekolah tersebut aku menemukannya :D. betapa senangnya diriku. Ternyata kakakku itu bernama Jung Il Woo. Orangnya keren sih, tapi juga konyol juga tu orang. Dia gak percaya klo aku adeknya ( yahhhh,,, sudah nasib adek yang terbuang ) tapi akhirnya dia percaya juga klo aku adeknya.hwaaaaaaa,,, senangnya punya kakak cowok.

Setelah masalah tersebut selesai, aku menjalani hidup normalku kembali. Aku kembali ke bangku SMA yang dulu aku tinggalkan. Ternyata tidak hanya aku yang menjadi murid baru di tengah semester itu. Selain itu ada cowok baru dan juga sekelas dengan diriku. Aku berkenalan dengan dia. Dia adalah Kang Min Hyuk. Dia orang yang ramah dan murah senyum. Selera humornya juga tinggi, buktinya dia bisa membuat aku tertawa sampai pipiku sakit XD. Sejak saat itu aku menjadi sahabatnya. Aku juga mempunyai teman sebangku yang baik padaku. Namanya Song Hyun Sun. Dia suka banget ma Min Ho. Dia itu ketua kelas di kelasku. Tapi emang Min Ho jadi ketua kelas yang keren dan bijaksana, gak heran klo banyak cewek2 yang suka ma dia. Tapi maaf aku masih gak bisa ngelupain Yong Hwa #melankolis

Suatu hari aku di ajak jalan – jalan ma kakakku. Sekarang aku udah mulai deket ma kakak dan dia udah balik pulang ke rumah lagi. Huraaayyyyyy.... dan senangnya aku dikenalin juga ma temennya Soong Jong Ki. Gilaaaaaa cakep mamen. Sampai terpukau aku liatnya. Hehe #lebay. Berhubung saat itu ada konser band, kami pergi bareng kesana, dan gak nyangka aku liat Yong Hwa. Dia gak liat konsernya tapi dia vokalis salah satu band yang tampil saat itu, namanya CNBLUE :)). Dan ternyata Min Hyuk jadi drummernya. Gak nyangka banget ya.

Sejak saat itu aku tanya tentang Yong Hwa ke Min Hyuk. Jadi aku tau banyak deh tentang dia. Tapi mirisnya dia udah deket ma Park Shin Hye. Hyaaaahhhhhhh....... patah deh ni hati. Tapi apa pentingnya cinta. Yang penting sekarang aku masih punya kakak cowok yang baik dan temen yang perhatian. Ehhhhhhh...... tapi gak sampek situ aja aku ma Yong Hwa. Berkat Min Hyuk aku juga bisa jadi temen deketnya. It’s my happy ending :D

nah itu tadi FF yang telah aku bwat. maaf ya klo tidak menarik, karena ini memang FF perdanaku. gomawo :)

Minggu, 20 Maret 2011

Akhir Cinta Abadi Part 2

10 menit menunggu adzan magrib serasa lama sekali. Bolak – balik aku liat jam dinding yang ada di tengah ruang makan sepertinya tidak pernah berjalan mendekat ke menit 30 selepas jam 6. Adikku yang masih kelas 4 SD sudah mulai ngak sabaran untuk berbuka puasa. Ku liat dia mulai bergulung – gulung gak jelas dilantai ruang keluarga.

“ Hey,, kalo kamu terus gulung – gulung kayak gitu lapermu malah tambah parah loooo. “ kataku memberi tahu.

“ Karepku ta. Bukan urusane mbak ae lo. Haduh, kok gak magrib – magrib se. “

Aku hanya bisa meliat adikku mengeluh saja menjelang magrib. Baru 1 minggu berpuasa sudah gak tahan. Tapi aku maklum, adikku memang masih kecil dan belum mengetahui arti yang sebenarnya untuk berpuasa. Awan, itulah nama adik cowokku. Nakalnya minta ampun deh. Udah gitu sukanya ngelawan kakaknya lagi. Dan sukanya cari ribut ma aku. Kalo aku ma adikku udah ribut bisa gempa lokal dirumahku, soalnya ributnya gak selesai – selesai sampek ada salah satu pihak yaang mengalah dan biasanya akulah yang mengalah ( namanya aja kakak ==’ ).

Akhirnya adzan maghrib berkumandang dari speaker musola di sekitar komplek. Alhamdulillah........ bisa menyelesaikan puasa hari ini dengan lancar. Aku menyegerakan berbuka dengan segelas air putih dan memakan ta’jil buatan ibu. Hari ini ibu membuat kolak pisang. Semua makanan yang dimakan saat berbuka memang sangat nikmat beda seperti hari – hari biasanya.

Setelah itu, kami sekeluarga melakukan salat maghrib berjamaah. Aku berdoa kepada Allah semoga aku bisa melaksanakan puasa sampai akhir dan bertemu Idul Fitri. Setelah selesai solat, kami berbuka bersama. Daripada nanti kekenyangan dan ketiduran waktu solat tarawih, aku mengambil nasi secukupnya saja, tidak seperti adikku yang ngambil nasi sepiring penuh dan hasilnya, dia ngorok paling keras waktu solat tarawih.

-------------------

Aku sudah bersiap – siap untuk buka bersama di depan komplek. Hari ini tanggal 17 Ramadhan dan kami merayakan Nuzulul Qur’an dengan berbuka bersama dan ceramah agama. Setelah adzan berkumandang aku langsung solat magrib dan berganti pakaian.

“ Bu, aku berangkat duluan ya ke depan komplek “ pamitku ke Ibu

“ Gak bareng ibu aja ? bentar lagi ibu juga mau berangkat kok “ tukas Ibuku.

“ Enggak ah, aku berangkat duluan aja. Assalamualaikum “

“ Yaudah ati – ati, Waalaikumsalam “

Walaupun ibuku udah bilang bentar lagi mau berangkat, tetep aja bentarnta aku ma Ibu gak sama. Bisa – bisa aku nunggu seperempat jam lagi bwat nungguin ibuku dandan. Sesampainya di sana, aku melihat Ardi melambaikan tangan kepadaku. Kubalas lambaiannya dan aku ngeliat Nita disebelah Ardi ngelambai juga ke aku. Keliatannya dia seneng banget bisa deket ma Ardi. Tiba – tiba ja ada rasa gak suka di diriku. Tapi kutepis begitu saja karena gak ada gunanya, malah akan ngerusak moodku yang skarang lagi bagus. Ku hampiri mereka berdua. Aku celingak-celinguk berharap gak ada Joni di deket – deket sini. Biasanya klo ada Ardi ada Joni juga.

“ Joni gak ikut, Han. Katanya dia juga lagi ada buka bersama ma kelasnya. Kamu kangen ya ma Joni ? “ Ardi ternyata mulai mengetahui gerak – gerikku.

“ Eh, enak aja. Aku malah seneng dia gak ada. Jadi aku bisa tenang deh. “

“ Halah, ngeles aja kamu, Han. Kalo kangen bilang aja gak usah ditutup – tutupi. Ati – ati lo nanti kangen beneran. “ lanjut aja tu Ardi ngeledek aku. Tapi aku gak peduliin lagi tu ledekan, nanti malah berkepanjangan.

“ Udah ah, Di. Eh, Nit, kamu udah dari tadi disini ? “ aku mengalihkan pembicaraan

“ Iya, Han. Tadi aku ma Ardi salat magrib di musola. Jadi sekalian aja langsung berangkat kesini bareng. Ternyata Ardi itu selera humornya tinggi lo, Han. Dari tadi dia ngelucu aja jadi mbuat aku ketawa trus. Jadi tambah laper nih. Hahaha. “ kata Nita.

“ Oh, iya.masak sih ? anak kyak dia bisa ngelucu ? aku ngejawab dengan sewot.

“ Iya dong. Ardi gitu lohhh. Aku kan emang dari lahirnya udah lucu, Han. “ Ardi mulai kepedean.

“ Kepedean lu, Ar. Lucu darimana. Dari jamn purba aja kamu udah gak lucu pa lagi sekarang “

“ Wihhh,,,, jahat banget kamu, Han kalo menghina “ kata Ardi

“ Emang, baru tau lu “ kata ku membara ( emang api --‘ )

Saat buka bersama, moodku jelek banget. Gmana ngak bad mood, dari tadi Nita ngomongnya ma Ardi mulu. Ardi juga gitu, kyaknya seneng aja tuh diajak ngomong trus ma Nita. Paling aku cman ketawa – ketawa ja kalo ada yang lucu dan menjadipendengar yang baik. Udah gitu aku gak ngerti apa yang mereka omongin, dan gak mau ngerti. Masak aku cemburu sih klo Nita ma Ardi.

“ Duh, gak mungkin, gak mungkin, Hana “ kataku pada diri sendiri.

“ Apanya yang gak mungkin, Han ? “ kata Nita menanggapi.

“ Haaahhhh. Apanya ? ohhhh,,, gak papa kok. Gak ada apa – apa “ Aku gelagapan sendiri.

“ Ah,,,,, Aku tau. Paling Hana bilang, gak mungkin dia kangen ma Joni. Iyakan, Han ? haha “ Ardi malah ngeledek aku. Aku tambah emosi ja. Udah mood jelek banget. Sekalang tambah mood super jelek banget.

“ Ah, udah. Aku mau pulang aja. “ kataku agak bernada marah.

“ Han, jangan marah dong. Ardi kan cuman bercanda “ Nita malah belain Ardi. Kyaknya dia udah bener – bener dijampi –jampi tu ma Ardi.

“ Aduh, Han. Aku minta maaf deh. Aku kan cuman bercanda. Kayak katanya Nita tadi. “

“ Aku gak marah, kok. Aku udah ngantuk nih. Pengen cepet – cepet tidur. Hoooooaaahhhhm “ Aku pura – pura menguap padahal aku gak ngantuk sama sekali.

“ Udah aku pulang dulu ya, Assalamualaikum “ aku meninggalkan mereka.

“ Waalaikumsalam “

Pengen rasanya aku bilang aku memang marah, tapi aku gak tau alasannya apa. Masak aku mau bilang klo aku gak seneng dari tadi mereka ngomong berdua mulu. Gak banget deh. Malah tambah diledekin aku.

to be continued



Senin, 14 Maret 2011

Akhir Cinta Abadi

Aku tak tau perasaan itu muncul kapan dan bagaimana. Seingatku itu begitu saja muncul dan aku nikmati saja perasaan itu. Senang, sedih, marah itu datang salah satunya karena dia. Tapi aku gak bisa melawan takdir yang memang telah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa. Dia pergi begitu saja. Tetapi perasaan itu tak bisa hilang begitu saja. Itulah awal dari semuanya.

----------------------

“ Hey, ni surat dari pengemarmu “ tiba – tiba Ardi dah nongol di depan mukaku disaat aku gak pengen ngeliat mukanya yang amit – amit nyebelin banget.

“ Udah aq bilangin berulang kali kan. Aku gak nerima surat – surat yang gak jelas dari temenmu itu. Yang gak jelas dari mana asalnya. Pedenya, Astagfirullah, dah bener – bener mirip sama spesiesmu. “ kataku sewot.

“ Dia maksa aku tau. Kamu kira aku gak risih apa. Bilang ja langsung ke dia AKU GAK SUKA KAMU kan selesai masalahnya. “ Ardi ikutan sewot kayak aku.

“ Haduh, Ar. Tapi dia tetep aja kyak gitu. Gak ada berhenti – berhentinya. Hoaaahhhh. “ Aku mulai curcol ke Ardi.

“ Udah nasib lu kale ma dia. Haha “

Karena aku dah ngerasa bosen sendiri, aku tinggal Ardi masuk rumah dan meninggalkan wajahnya yang tambah gak ketulungan amit – amitnya.

Ardi adalah tetangga baruku yang baru aja 1 bulan jadi tetangga udah bawa banyak masalah. Termasuk temennya itu juga tetangga baruku dan lebih banyak bawa masalah. Dulu hidupku tenang seperti air mengalir. Sekarang hidupku terjal seperti air kesumpet diselokan. Bagaimana tidak bermasalah ? saat pertama kali aku ketemu mereka, temennya Ardi yang namanya Joni itu dah mulai kirim – kirim surat gak jelas lewat Ardi. Dan lebih parahnya lagi dia juga memanfaatkan adikku yang masih lugu – lugu polos gitu. Udah sinting kali tu anak. Tapi untungnya aku berbeda sekolah ma dia. Jadi aku terbebas dari mereka. Fiuhhhhhh......

Hari ini merupakan awal dari tahun ajaran baru. Mungkin bagi sebagian banyak anak SMA itu sangat membosankan. Juga termasuk aku merasakan itu. Hehe. Tidak seperti halnya, Nita, sahabat seperjuanganku dari jaman kolomenjing yang udah mencak – mencak di kelas.

“ Hanaaaaaa,,,,,,, mana anak baru yang kamu ceritain itu ? mana – mana ? “ Nita nyerocos sambil matanya jelalatan nyari sesuatu.

“ Kamu ngomong apa sih ? yah ada dirumahnya lah. Alhamdulillah dia gak sekolah disini, Nita.”

“ Hahhhh,,,,, jadi dia gak sekolah disini. Yahhhhh,,,,, kirain. Padahal aku dah semangat banget nih masuk sekolah gara – gara ceritamu itu. “ mendengar apa yang aku katakan Nita langsung lemah tak berdaya menyambut hari pertama tahun ajaran baru ini. Sebagai gantinya aku mengajak dia main ke rumahku sepulang sekolah dan dia mencak – mencak lagi.

“ Han, janji ya. Nanti kenalin aku ke anak baru itu. Aku penasaran nih. Temenmu kan juga temenku. Hehe. “ kata Nita.

“ Iya – iya. Kamu ngebet banget sih mau kenalan. Jangan – jangan mau kamu gebet tu anak baru. Harus aku peringatin nih kayaknya. “

“ HANAAAAAAAAA,,,,,,,, “

---------------------

Setelah aku menjadi penengah untuk mengenalkan mereka. Yah seperti biasa aku bilang “ Ardi, ini Nita. Nita, ini Ardi. “ dan Nita mengulurkan tangan untuk bersalaman, dan Ardi bilang gini “ Bukan muhrim, mbak. Kalo mau dapet salaman dari saya, yuk kawin dulu. “ seketika wajah Nita berubah jadi tomat. Dan kamipun melesat pergi kembali kerumah.

“ Tu anak emang agak sinting kali ya ? haduh knapa kamu punya tetangga baru kayak gitu, Han. “ kata Nita.

“ Apa aku bilang ? ya manaku tau dia pindah kesini. Skarang gak minat lagi nih ma Ardi.haha.”

“ Kalo aku liat tadi anaknya kyak gitu, sementara ini gak dulu deh. Haha.”

Dan kamipun berhenti membicarakan cowok yang bernama Ardi itu dan membahas yang lain, termasuk membahas bulan Ramadhan yang bakal datang 1 minggu lagi. Gak kerasa bulan Ramadahan udah menghampiri kita para umat Muslim dan itu artinya kita harus berpuasa sebulan penuh dan banyak melakukan amal kebaikan. Itu artinya sekolah juga pulang lebih awal ( gak nyambung banget ya ==’ ). Habisnya sekolahku pelit banget deh mau mulangin siswanya agak siang dikit gitu. Pulangnya sore mulu dan juga pelit libur dah. Nah seperti biasa paling – paling pada bulan Ramadhan lingkunganku ngadain buka bersama di depan komplek dan tadarus keliling di rumah –rumah.

Hari ini, sudah memasuki bulan Ranmadhan hari pertama. Kalo hari pertama emang puasanya kerasa banget. Tapi klo udah seminggu 2 minggu puasanya udah gak kerasa lagi. Hari ini panas banget dan gak enaknya lagi aku harus jalan kaki dari depan komplek ke rumahku yang ada di ujung komplek. Tiba – tiba dari belakang Joni dateng naik motor. Haduh, ngapain coba Joni dateng. Musibah besar deh kalo gini.

“ Han, ayo aku gonceng nih. Kasihan kamu panas – panas gini jalan kaki. Yuk naik. “ kata Joni.

“ Makasih, Jon. Kyaknya gak usah deh. Rumahku kan udah deket. Tinggal sak srut sampek kog “ aku masih baik – baik nanggepin Joni.

“ Deket apanya, han. Masih jauh gitu rumahmu. Ayok bareng gak usah malu – malu” Joni maksa

“ gak usah, Jon. Beneran deh. Aku lagi pengen jalan aja kog. Kamu duluan aja. “

“ Ahhhh,,,,,jangan – jangan kamu grogi ya kalo aku gonceng. Ngaku aja, Han. Biasa aja kale. Tuh wajahmu sampek merah. Hihihi. “ Joni mulai mancing mancing nih.

“ Eh, kamu jangan kepedean ya. Kamu seneng banget sih nganggu aku. Kayak gak da kerjaan lain j. “ aku mulai nyolot.

Saat aku lagi ribut – ributnya ma Joni, aku bersyukur banget deh ma Allah. Untung Ardi tiba – tiba dateng dan ngajak Joni main futsal, tapi aku gak yakin deh Ardi ngajak Joni main futsal beneran. Dan akhirnya aku terbebas dari jeratan Joni yang kepedean itu.

to be continued

Tampilkan postingan dengan label My Short Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Short Story. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 September 2012

Buku Harian Hitam (part 1)


Kulihat dikejauhan, bayang – bayang hitam itu berdiri di atas  tiang dengan angkuhnya. Matanya merah menyala.  Kulihat giginya menyeringai kepadaku dan menghilang tertelan kegelapan. Aku merasa semakin was – was dan mempercepat langkahku. Kudengar samar – samar langkah kaki yang bergemerisik di belakangku. Bulu kudukku menegang. Semakin kupercepat langkah kakiku. Tetapi sosok itu malah semakin cepat. Kulihat di bawah terangnya rembulan, bayang – bayang itu semakin mendekat kepadaku dengan mata merahnya yang menyala  - nyala. Bayangan itu ! aku berlari dan tak kuasa menahan rasa takutku yang menjadi – jadi. Malam telah semakin gelap. Tanpa kusadari ada jurang yang mengangga lebar dan aku tak bisa menurunkan kecepatan kakiku, dan.....
Dug,, kepalaku sukses membentur jeruji besi jendela angkot. Ternyata yang tadi hanyalah mimpi buruk yang tiba – tiba singgah di dalam tidurku. Kulepas headset yang terpasang ditelingaku yang masih menyenandungkan lagu Simple Plan. Selalu saja kebiasaanku tertidur tanpa kusadari diangkot. Padahal ini sudah siang bolong dimana matahari sudah tegak di atas kepala. Hari ini aku bukan mau pulang sekolah, tetapi sekolah mengharuskan aku masuk siang karena ada ujian sekolah untuk kelas 3. Tetapi masuk siang bukanlah nikmat untuk kami, kelas 1 dan 2. Walaupun jam sekolah menjadi semakin pendek tetapi  tetap saja kita harus menghadapi ujian tengah semester. Ditambah lagi kebiasaanku yang selalu mengantuk sepanjang hari, sehingga membuatku tak ada semangat untuk pergi kesekolah.
Hampir saja tadi aku melewati sekolahku, kalo aku tidak bangun karena mimpi buruk yang membuatku  ngeri ketika mengingatnya kembali. Gerbang sekolah masih belum terlalu ramai. Kebiasaan anak – anak kalo masuk siang, pasti datangnya di pas – pasin sama bel masuk. Aku langkahkan kaki ke ruang ujianku yang berada di pojok salah satu lorong di sekolah. Kelas masih sepi dan masih segelintir anak yang telah datang. Seperti biasa Nita, sahabatku sudah duduk di bangku depan sambil  menekuni bukunya. Aku ingat kembali mata ujian hari ini, dan yang terlintas dipikiranku adalah bahasa indonesia. Dari waktu ke waktu, soal bahasa indonesia pasti seperti itu modelnya. Mencari ide pokok, kalimat utama, cerpen, pidato, berita, dan lain – lainnya. Sehingga tidak pernah buku catatanku melebihi sekitar 10 lembar dalam satu semester. Tetapi Nita ini memang sahabatku yang paling rajin. Semua mata ujian pasti dipersiapkannya dengan matang dan alhasil dia jadi sasaran anak – anak untuk jadi juru kunci jawaban.
“Hai, Nit. Belajar aja nih kerjaanmu. Aku aja enggak buka buku blas semaleman. Nanti klo gak bisa tanya kamu, ya ?” kataku sambil menguap lebar.
“Lina, kapan sih kamu gak ngantuk. Kerjaannya nguap aja. Kamu tinggal tidur aja deh nanti soalnya.” kata Nita meledekku.
“Wah, ide bagus juga tu, Nit. Dari pada aku baca soal yang berlembar – lembar dan ngebosenin, mending tidur aja. Kan ada dirimu yang mau membantu. Hehe.”
“Enggak sudi kale bantuain pahlawan ketiduran.”
Bel masukpun akhirnya berdentang dengan nyaring. Aku siapkan alat tulisku untuk ujian. Guru pengawas dengan segera masuk ke dalam kelas dan mempersilahkan kami berdoa. Ujianpun dimulai dan pengawas membagikan soalnya kepada kami. Kulihat naskah soal yang ada ditangan dan terhitung ada 13 lembar banyaknya naskah itu. Aku hanya bisa pasrah dan mengerjakan soal tersebut. Walaupun aku terkenal suka membaca, tapi ini benar – benar bukan tipe bacaan yang kusuka. Bahasa yang berbelit –belit dan penuh dengan kebingungan dipilihan jawabannya. Kalau sudah begitu, apa saja jawaban yang terbersit dan paling mungkin akan aku pilih tanpa terlalu mengkritisinya lebih lanjut, karena percuma akan membuatku semakin bingung. Ditengah – tengah kebingunganku menjawab soal, tiba – tiba ada seorang cowok yang terlambat masuk ruang ujian. Kalau aku tak salah ingat, dia adalah anak kelas lain yang terpisah sehingga masuk ke ruang ujian kelasku. Untung saja guru pengawasnya adalah orang yang terkenal baik, sehingga dia diperbolehkan langsung mengikuti ujian. Kuteruskan upayaku untuk memecahkan soal – soal tersebut kembali.
Akhirnya aku bisa mengisi semua lingkaran dilembar jawaban. Bukan berarti aku sukses dalam ujiannya karena aku saja tidak tahu itu benar atau tidak. Kulihat sekelilingku yang masih sibuk berkutat dengan soal mereka dan pandanganku jatuh kepada cowok yang terlambat tadi. Dia tertidur dengan menengkurapkan kepala dimejanya. Pikirku, cepat sekali dia mengerjakan soal – soal ini, padahal dia tadi telat hampir 15 menit lamanya. Kupandangi dirinya yang tak bergerak dan pulas dalam tidurnya. Tetapi tiba – tiba dia mengeliat terbangun dan menangkap basah tatapanku. Aku cepat – cepat memalingkan kepala menatap soalku. Rasanya malu tertangkap sedang memperhatikan orang lain yang kenal saja tidak pernah. Untuk beberapa saat aku berpura – pura sibuk dengan soalku. Tetapi karena penasaran aku lirik kembali cowok itu. Kulihat dia menatapku dengan pandangannya yang tajam dan tanpa ekspresi. Mengapa dia masih menatapku ? apakah ada sesuatu yang aneh pada diriku ? Lama kelamaan rasanya risih diperhatikan terus seperti itu, apalagi dengan orang yang tidak kita kenal dan itu berlangsung hingga bel tanda ujian pertama berakhir dibunyikan.
Aku bergegas keluar dari ruang ujian yang bagaikan sarang mata –mata. Akhirnya aku terlepas dari cowok aneh itu dan aku menghampiri Nita yang sudah keluar dari ruangan terlebih dahulu. Aku ceritakan kejadian tadi padanya dan Nita hanya bisa tertawa karena ulahku.
“Makanya, Lin. Kamu gak usah aneh – aneh deh. Salahnya sendiri orang tidur malah kamu perhatiin. Mentang – mentang sesama kaum tertidur malah naksir deh.” ledek Nita.
“Idih,,,, Nit, ngak segitunya kali diriku. Aku cuma gak ada kerjaan aja waktu itu. Jadi ngeliatin orang – orang deh. Eh, tapi ngomong – ngomong siapa  sih dia ? kok aku jarang liat cowok itu ?” kataku penasan juga sama identitas cowok itu.
“Nah, kan. Sekarang mulai tanya – tanya nama segala. Namanya Caesar. Trus klo udah tau namanya mau kamu apain ? kamu mau deketin dia ya ?” Kalo soal ledek meledek Nita emang paling jagonya. Semua hal yang menyangkut dirimu pasti dijadikan bahan ledekan olehnya. Aku hanya bisa memasang tampang cemberut dan tak mau mengubrisnya lagi. Siapa juga yang mau tahu soal cowok itu, pikirku dalam hati. 

Selasa, 06 Maret 2012

Hanya Kenangan

Pagi membangunkanku dengan bunyi tetes hujan yang berjatuhan di genting. Rasanya masih malas sekali untuk bangun dan keluar dari balik selimut. Tapi aku telah sungkan kepada pagi yang telah menunjukkan harinya sejak 1 jam yang lalu. Jam kamarku sudah menunjukkan jam 6 lebih. Untung saja hari ini aku tak harus berangkat sekolah seperti biasanya. Kubuka jendela kamar yang langsung menghadap kehamparan sawah hijau yang basah. Bagaikan permadani yang sekarang telah langka ditengah perkotaan yang telah padat bangunan. Kuhirup udara pagi yang segar dalam – dalam dan tak lupa bersyukur kepada Tuhan masih memberiku kehidupan hingga hari ini. Burung – burung berkicau dengan ributnya di sangkarnya di dahan – dahan pepohonan. Kulihat mereka sedang meminta – minta makan dari induknya yang telah bersusah payah membagi adil makanannya pada anak – anaknya hingga induknya tak dapat makanan. Begitu banyak pelajaran dan ciptaan Tuhan yang indah dipagi hari yang menyadarkan kita bahwa hidup ini takkan pernah selalu berjalan seperti yang kita harapkan.

Samar –samar kudengar seseorang memaanggil namaku dipagi ini. seseorang yang telah aku duga dari suaranya yang memang tiap minggu pagi akan memanggil – manggil namaku. Kudengar suara itu “ Hey, Lala pahlawan kesiangan. Ayo cepatlah kau bangun. Sudah jam berapa sekarang. Ayo hari ini kita tanding lagi “ kudengar suara itu setiap minggu pagi. Tetapi aku tahu hari ini, suara itu hanyalah angan – angan kosong dalam pikiranku. Aku tahu dia tak mungkin lagi ada didepan pagar rumahku, memanggil namaku tak tahu malu seperti biasanya. Rasanya berbeda tak ada lagi dia yang berteriak – teriak memanggil namaku. Padahal hari ini adalah hari istimewa baginya dan aku ingin merayakannya lagi bersamanya. Kuputuskan segera turun kebawah untuk memulai hari ini. Kulihat ruangan keluarga telah kosong tanpa seorangpun. Seperti biasa aku ditinggal orang – orang rumah sendiri. Padahal hari ini aku begitu gundah harus menjalani pagi ini sendiri. Tanpa kakiku kuperintahkan aku membuka pintu depan dan melihat tak ada siapa –siapa disana. Hanya ada rintik hujan yang tak kunjung reda sejak kemarindan hembusan samar angin membawa suasana yang semakin tak menyenangkan. Walaupun aku tahu dia tak mungkin ada lagi disana, tetap saja aku ingin memastikannya sendiri.

Kuambil 2 raket yang tergantung di dekat pintu. Kupikir aku sudah gila sekarang. Tak mungkin ada orang yang bermain bulutangkis ditengah hujan seperti ini. tetapi tetap saja aku langkahkan kaki kelapangan bulutangkis biasanya aku bermain dengan menyandang 2 raketku. Untuk siapa yang satunya lagi ? aku hanya membawanya saja walaupun aku tahu tak mungkin ada lagi yang memegang raket itu. hanya ada kenangan yang tak mungkin terulang lagi dalam raket itu. kubermain sendiri dengan raketku. Hanya ada tembok tinggi yang menjadi korban smashku yang penuh nafsu tanpa ampun, tembok yang tak bisa melawan dan diam membisu tanpa perlawanan. Mungkin dulu aku akan selalu mendapat perlawanan darinya tanpa henti sampai ada salah satu dari kita yang menyerah dan mengakui kehebatan lawannya. Aku frustasi, aku hentikan permainanku yang tak ada artinya dan kembali pulang dengan pikiran yang tak sadar sepenuhnya.

Kulihat mobil hitam yang digunakan ayah dan ibu telah terparkir di depan rumah yang mengartikan bahwa mereka telah datang. Kuhampiri ibu yang sedang berada di dapur dan menyalaminya.

“ Lala, hari ini kamu ada acara ? bisa temeni ibu datang ke acara ulang tahun teman ibu tidak ?” kata ibu.

“ maaf, Bu. Tapi hari ini aku sudah ada rencana dan tak mungkin aku melupakannya.ibu tahukan ?” kataku.

Aku memang tak berbohong, bukannya aku malas menemani ibu. Tetapi hari ini memang telah ada momen yang tak mungkin aku lupakan sampai kapanpun walaupun itu semua telah tak ada dan percuma saja.

“La, sampaikapan kau akan selalu mengingatnya. Berusahalah untuk melupakannya dan jangan mengenangnya lagi, La”

“Bu, Lala tahu kapan Lala akan berhenti. Lala tahu kapan akan bisa melupakan dan sampai kapan Lala akan terus mengenangnya. Ibu jangan khawatir ini masalah Lala”

Aku tinggalkan ibu, yang masih prihatin dengan diriku yang tak kunjung bisa melupakan momen hari ini dan selalu mengingatnya. Aku bersiap – siap pergi kesuatu tempat yang sudah 2 tahun ini selalu kukunjungi. Aku pilih pakaian yang juga tahun lalu kupakai kesana. Aku langkahkan kaki di jalan yang masih sepi dan becek karena hujan. Tak lupa aku membeli bunga yang sama seperti saat itu di toko bunga langgananku. Di sepanjang jalan, aku hanya bisa memandang langit yang kelabu. Gunung yang menjulang tinggi tertutup awan. Didepan sana kulihat pohon – pohon semakin rapat menandakan tempat tujuanku telah semakin dekat.

Aku masuk ke gerbang melengkung yang sudah sering kulewati. Mungkin jika dia hidup, dia akan bosan melihatku yang sering sekali melihatku melewatinya. Aku telusuri jalan setapak yang ada dan berhenti di tempat yang selalu aku rindukan. Aku berjongkok di depannya dan mencabuti rumput – rumput liar yang telah banyak tumbuh. Setelah semua rumput liar telah habis kucabuti, aku pejamkan mataku. Aku kenang semua yang telah terjadi 2 tahun yang lalu dan berdoa kepada Tuhan. Setelah kurasa doaku telah cukup. Aku letakkan rangkaian bunga di depan pusaranya seraya mengucapkan “ Happy Birthday, Zar. Jika kau masih hidup sekarang mungkin kita akan masih jalani 17 tahun kita bersama. Aku hanya berdoa semoga kau di tempatkan disisiNya. Maafkan aku selalu datang kepadamu. Aku harap ini kunjungan terakhirku dan takkan pernah lagi”. Aku tinggalkan pemakaman beserta seluruh kenangan yang ditinggalkannya untukku. Aku memutuskan itu hanya sebuah kenangan yang untuk terakhir kalinya, untuk hari ini dan sekarang saja aku kenang.

Kamis, 26 Januari 2012

Segalanya Tentangmu

Aku akan jujur sekarang. Aku sangat ingin bertemu dengannya. Sudah 2 tahun kita tidak bertemu perasaan ini masih tak berubah. Masih tersimpan rapi di dalam hati. Kadang merekah bahagia, kadang teriris – iris memilukan. Tanpa pernah kau tahu apa yang ku rasakan. Hanya aku dan Sang Pencipta yang mengetahui segala problematika dalam hati.


Pertama kali kita bertemu, kau seorang yang tak kuanggap. Kulirik saja, aku tak pernah. Apalagi memikirkanmu ? kau masih terlihat sebagai orang yang biasa. Semua canda tawa kita hanya hal yang biasa. Tak pernah mengetuk pintu hati yang tertutup rapat karena seseorang yang pergi dan membawa kunci hatiku.


Kesempatan itu begitu terbuang sia –sia, kalau saja aku tahu sekarang akan seperti ini, aku akan berusaha lebih mengenalmu. Saat kita terpisah oleh ruang, ku tak tahu mengapa itu malah mendekatkan kita. Aku juga tidak sadar bagaimana itu terjadi. Kita menjadi lebih dekat dalam dunia pesan. Mungkin setiap saat kita selalu bertukar kabar. Kalau bukan kamu duluan yang mengirimiku pesan ke inboxku aku akan yang lebih dulu mengirimimu kabarku. Padahal kita hanya terpisah oleh ruang, tetapi sepertinya dunia pesan kita lebih menyenangkan daripada dunia nyata kita. Setiap kali aku bertemu denganmu, aku tak bisa mengatakan apapun. Padahal tadi malam kita bercerita begitu banyak sampai inboxku penuh. Aku hanya bisa menyapa “hey”padamu. Mungkin ini akan lebih baik.


Aku senang dengan segalanya. Sekarang senyummu, juga senyumku. Sedihmu, kuharap kau membaginya denganku juga. Kau sudah menjadi bagian dalam hari –hariku. Tak terkecuali sampai saat ini. aku tak tahu bagaimana perasaanmu yang sebenarnya padaku. Tetapi aku tahu pasti apa perasaanku ini.


Tetapi, sekarang semua itu hanya kenangan. Yang terkubur dan terkadang masih muncul kepermukaan. Kau tidak sesering dulu bercerita padaku, merekahkan senyuman di hari –hariku. Itu semua karena perpisahan kita 2 tahun yang lalu. Kita jalani kehidupan kita masing – masing. Kau jalani hidupmu, begitu pula aku. tetapi tak pernah sekalipun ku terlepas dari bayang – bayang dirimu. Semakin ku ingin melupakanmu, semakin jelas pula kenangan tentangmu. Pernah kau bilang kau rindu padaku, tapi ku tak tau apa itu sungguh – sungguh.


Sekarang aku tak berani lagi mengirim pesan padamu. Aku takut aku mengetahui kau telah berubah dan membuatku kecewa. Setiap saat, kulihat tulisanmu di dunia maya menyesakkanku. Tetapi juga selalu ada rasa rindu setiap kali aku membacanya. Walaupun aku tahu setiap statusmu bukan untukku, aku selalu terpesona dengan keindahan tulisanmu. Setiap kata –kata yang kau tulisankan selalu hebat, selalu terlihat sempurna, dan menjadi kenangan tersendiri bagiku. Emmm,,,, mungkin kau tidak tau bahwa aku diam – diam melakukan ini dan aku tak berharap kau mengetahuinya.


Aku menunggu dan menunggu, agar paling tidak kau melihatku tanpa aku harus mencari – cari perhatianmu. Disetiap hariku, selalu memikirkanmu. Padahal ku tau kau mungkin tak pernah sebersitpun memikirkan aku. aku pernah membaca statusmu dan kau bercerita bahwa kau bertemu dengan seseorang yang kau tulis dalam status - statusmu. Tetapi dirimu juga seperti diriku yang hanya diam – diam melihat dia dan tersenyum karenanya. Dalam hal ini kita sama. Seperti itulah diriku, diam –diam tersenyum untukmu.


Malang, 25 Januari 2012

tiww :)

Kamis, 07 Juli 2011

My Life in My Dreams

Annyeong,,,,, aku lagi pingin posting yang geje2 nih. jadi aku akan posting sebuah karangan bebas ( kyak bahasa indonesia aja ) hehe. ni karangan mengalir begitu aja jadigak pakek dipikir. pokoknya ditulis aja deh. mungkin ni juga bisa disebut FF. So, enjoy it :)

Hey, kenalkan namaku Park Dong Yoo. Itu nama koreaku, tetapi sebenarnya aku adalah orang Indonesia. dilihat dari namanya aku masih sodaraan ma Park Dong Joo yang mungkin lebih beken dipanggil Noh Min Woo, yang main di my girlfriend is gumiho itu loo :p. Suatu hari aku menemukan cinta pertamaku saat aku menyamar menjadi seorang laki – laki disebuah sekolah. Cinta pertamaku itu adalah Yong Hwa oppa. Aku memang mencintainya diam – diam karena dia juga gak tau klo aku seorang cewek. Sedih ngak sih :’(. Tujuanku menyamar disekolah cowo tersebut tidak lain tidak bukan adalah untuk mencari kakak cowokku yang hilang entah kemana dan kabarnya dia bersekolah di sekolah tempat Yong oppa juga disana.

Setelah sekian lama aku mencari informasi di sekolah tersebut aku menemukannya :D. betapa senangnya diriku. Ternyata kakakku itu bernama Jung Il Woo. Orangnya keren sih, tapi juga konyol juga tu orang. Dia gak percaya klo aku adeknya ( yahhhh,,, sudah nasib adek yang terbuang ) tapi akhirnya dia percaya juga klo aku adeknya.hwaaaaaaa,,, senangnya punya kakak cowok.

Setelah masalah tersebut selesai, aku menjalani hidup normalku kembali. Aku kembali ke bangku SMA yang dulu aku tinggalkan. Ternyata tidak hanya aku yang menjadi murid baru di tengah semester itu. Selain itu ada cowok baru dan juga sekelas dengan diriku. Aku berkenalan dengan dia. Dia adalah Kang Min Hyuk. Dia orang yang ramah dan murah senyum. Selera humornya juga tinggi, buktinya dia bisa membuat aku tertawa sampai pipiku sakit XD. Sejak saat itu aku menjadi sahabatnya. Aku juga mempunyai teman sebangku yang baik padaku. Namanya Song Hyun Sun. Dia suka banget ma Min Ho. Dia itu ketua kelas di kelasku. Tapi emang Min Ho jadi ketua kelas yang keren dan bijaksana, gak heran klo banyak cewek2 yang suka ma dia. Tapi maaf aku masih gak bisa ngelupain Yong Hwa #melankolis

Suatu hari aku di ajak jalan – jalan ma kakakku. Sekarang aku udah mulai deket ma kakak dan dia udah balik pulang ke rumah lagi. Huraaayyyyyy.... dan senangnya aku dikenalin juga ma temennya Soong Jong Ki. Gilaaaaaa cakep mamen. Sampai terpukau aku liatnya. Hehe #lebay. Berhubung saat itu ada konser band, kami pergi bareng kesana, dan gak nyangka aku liat Yong Hwa. Dia gak liat konsernya tapi dia vokalis salah satu band yang tampil saat itu, namanya CNBLUE :)). Dan ternyata Min Hyuk jadi drummernya. Gak nyangka banget ya.

Sejak saat itu aku tanya tentang Yong Hwa ke Min Hyuk. Jadi aku tau banyak deh tentang dia. Tapi mirisnya dia udah deket ma Park Shin Hye. Hyaaaahhhhhhh....... patah deh ni hati. Tapi apa pentingnya cinta. Yang penting sekarang aku masih punya kakak cowok yang baik dan temen yang perhatian. Ehhhhhhh...... tapi gak sampek situ aja aku ma Yong Hwa. Berkat Min Hyuk aku juga bisa jadi temen deketnya. It’s my happy ending :D

nah itu tadi FF yang telah aku bwat. maaf ya klo tidak menarik, karena ini memang FF perdanaku. gomawo :)

Minggu, 20 Maret 2011

Akhir Cinta Abadi Part 2

10 menit menunggu adzan magrib serasa lama sekali. Bolak – balik aku liat jam dinding yang ada di tengah ruang makan sepertinya tidak pernah berjalan mendekat ke menit 30 selepas jam 6. Adikku yang masih kelas 4 SD sudah mulai ngak sabaran untuk berbuka puasa. Ku liat dia mulai bergulung – gulung gak jelas dilantai ruang keluarga.

“ Hey,, kalo kamu terus gulung – gulung kayak gitu lapermu malah tambah parah loooo. “ kataku memberi tahu.

“ Karepku ta. Bukan urusane mbak ae lo. Haduh, kok gak magrib – magrib se. “

Aku hanya bisa meliat adikku mengeluh saja menjelang magrib. Baru 1 minggu berpuasa sudah gak tahan. Tapi aku maklum, adikku memang masih kecil dan belum mengetahui arti yang sebenarnya untuk berpuasa. Awan, itulah nama adik cowokku. Nakalnya minta ampun deh. Udah gitu sukanya ngelawan kakaknya lagi. Dan sukanya cari ribut ma aku. Kalo aku ma adikku udah ribut bisa gempa lokal dirumahku, soalnya ributnya gak selesai – selesai sampek ada salah satu pihak yaang mengalah dan biasanya akulah yang mengalah ( namanya aja kakak ==’ ).

Akhirnya adzan maghrib berkumandang dari speaker musola di sekitar komplek. Alhamdulillah........ bisa menyelesaikan puasa hari ini dengan lancar. Aku menyegerakan berbuka dengan segelas air putih dan memakan ta’jil buatan ibu. Hari ini ibu membuat kolak pisang. Semua makanan yang dimakan saat berbuka memang sangat nikmat beda seperti hari – hari biasanya.

Setelah itu, kami sekeluarga melakukan salat maghrib berjamaah. Aku berdoa kepada Allah semoga aku bisa melaksanakan puasa sampai akhir dan bertemu Idul Fitri. Setelah selesai solat, kami berbuka bersama. Daripada nanti kekenyangan dan ketiduran waktu solat tarawih, aku mengambil nasi secukupnya saja, tidak seperti adikku yang ngambil nasi sepiring penuh dan hasilnya, dia ngorok paling keras waktu solat tarawih.

-------------------

Aku sudah bersiap – siap untuk buka bersama di depan komplek. Hari ini tanggal 17 Ramadhan dan kami merayakan Nuzulul Qur’an dengan berbuka bersama dan ceramah agama. Setelah adzan berkumandang aku langsung solat magrib dan berganti pakaian.

“ Bu, aku berangkat duluan ya ke depan komplek “ pamitku ke Ibu

“ Gak bareng ibu aja ? bentar lagi ibu juga mau berangkat kok “ tukas Ibuku.

“ Enggak ah, aku berangkat duluan aja. Assalamualaikum “

“ Yaudah ati – ati, Waalaikumsalam “

Walaupun ibuku udah bilang bentar lagi mau berangkat, tetep aja bentarnta aku ma Ibu gak sama. Bisa – bisa aku nunggu seperempat jam lagi bwat nungguin ibuku dandan. Sesampainya di sana, aku melihat Ardi melambaikan tangan kepadaku. Kubalas lambaiannya dan aku ngeliat Nita disebelah Ardi ngelambai juga ke aku. Keliatannya dia seneng banget bisa deket ma Ardi. Tiba – tiba ja ada rasa gak suka di diriku. Tapi kutepis begitu saja karena gak ada gunanya, malah akan ngerusak moodku yang skarang lagi bagus. Ku hampiri mereka berdua. Aku celingak-celinguk berharap gak ada Joni di deket – deket sini. Biasanya klo ada Ardi ada Joni juga.

“ Joni gak ikut, Han. Katanya dia juga lagi ada buka bersama ma kelasnya. Kamu kangen ya ma Joni ? “ Ardi ternyata mulai mengetahui gerak – gerikku.

“ Eh, enak aja. Aku malah seneng dia gak ada. Jadi aku bisa tenang deh. “

“ Halah, ngeles aja kamu, Han. Kalo kangen bilang aja gak usah ditutup – tutupi. Ati – ati lo nanti kangen beneran. “ lanjut aja tu Ardi ngeledek aku. Tapi aku gak peduliin lagi tu ledekan, nanti malah berkepanjangan.

“ Udah ah, Di. Eh, Nit, kamu udah dari tadi disini ? “ aku mengalihkan pembicaraan

“ Iya, Han. Tadi aku ma Ardi salat magrib di musola. Jadi sekalian aja langsung berangkat kesini bareng. Ternyata Ardi itu selera humornya tinggi lo, Han. Dari tadi dia ngelucu aja jadi mbuat aku ketawa trus. Jadi tambah laper nih. Hahaha. “ kata Nita.

“ Oh, iya.masak sih ? anak kyak dia bisa ngelucu ? aku ngejawab dengan sewot.

“ Iya dong. Ardi gitu lohhh. Aku kan emang dari lahirnya udah lucu, Han. “ Ardi mulai kepedean.

“ Kepedean lu, Ar. Lucu darimana. Dari jamn purba aja kamu udah gak lucu pa lagi sekarang “

“ Wihhh,,,, jahat banget kamu, Han kalo menghina “ kata Ardi

“ Emang, baru tau lu “ kata ku membara ( emang api --‘ )

Saat buka bersama, moodku jelek banget. Gmana ngak bad mood, dari tadi Nita ngomongnya ma Ardi mulu. Ardi juga gitu, kyaknya seneng aja tuh diajak ngomong trus ma Nita. Paling aku cman ketawa – ketawa ja kalo ada yang lucu dan menjadipendengar yang baik. Udah gitu aku gak ngerti apa yang mereka omongin, dan gak mau ngerti. Masak aku cemburu sih klo Nita ma Ardi.

“ Duh, gak mungkin, gak mungkin, Hana “ kataku pada diri sendiri.

“ Apanya yang gak mungkin, Han ? “ kata Nita menanggapi.

“ Haaahhhh. Apanya ? ohhhh,,, gak papa kok. Gak ada apa – apa “ Aku gelagapan sendiri.

“ Ah,,,,, Aku tau. Paling Hana bilang, gak mungkin dia kangen ma Joni. Iyakan, Han ? haha “ Ardi malah ngeledek aku. Aku tambah emosi ja. Udah mood jelek banget. Sekalang tambah mood super jelek banget.

“ Ah, udah. Aku mau pulang aja. “ kataku agak bernada marah.

“ Han, jangan marah dong. Ardi kan cuman bercanda “ Nita malah belain Ardi. Kyaknya dia udah bener – bener dijampi –jampi tu ma Ardi.

“ Aduh, Han. Aku minta maaf deh. Aku kan cuman bercanda. Kayak katanya Nita tadi. “

“ Aku gak marah, kok. Aku udah ngantuk nih. Pengen cepet – cepet tidur. Hoooooaaahhhhm “ Aku pura – pura menguap padahal aku gak ngantuk sama sekali.

“ Udah aku pulang dulu ya, Assalamualaikum “ aku meninggalkan mereka.

“ Waalaikumsalam “

Pengen rasanya aku bilang aku memang marah, tapi aku gak tau alasannya apa. Masak aku mau bilang klo aku gak seneng dari tadi mereka ngomong berdua mulu. Gak banget deh. Malah tambah diledekin aku.

to be continued



Senin, 14 Maret 2011

Akhir Cinta Abadi

Aku tak tau perasaan itu muncul kapan dan bagaimana. Seingatku itu begitu saja muncul dan aku nikmati saja perasaan itu. Senang, sedih, marah itu datang salah satunya karena dia. Tapi aku gak bisa melawan takdir yang memang telah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa. Dia pergi begitu saja. Tetapi perasaan itu tak bisa hilang begitu saja. Itulah awal dari semuanya.

----------------------

“ Hey, ni surat dari pengemarmu “ tiba – tiba Ardi dah nongol di depan mukaku disaat aku gak pengen ngeliat mukanya yang amit – amit nyebelin banget.

“ Udah aq bilangin berulang kali kan. Aku gak nerima surat – surat yang gak jelas dari temenmu itu. Yang gak jelas dari mana asalnya. Pedenya, Astagfirullah, dah bener – bener mirip sama spesiesmu. “ kataku sewot.

“ Dia maksa aku tau. Kamu kira aku gak risih apa. Bilang ja langsung ke dia AKU GAK SUKA KAMU kan selesai masalahnya. “ Ardi ikutan sewot kayak aku.

“ Haduh, Ar. Tapi dia tetep aja kyak gitu. Gak ada berhenti – berhentinya. Hoaaahhhh. “ Aku mulai curcol ke Ardi.

“ Udah nasib lu kale ma dia. Haha “

Karena aku dah ngerasa bosen sendiri, aku tinggal Ardi masuk rumah dan meninggalkan wajahnya yang tambah gak ketulungan amit – amitnya.

Ardi adalah tetangga baruku yang baru aja 1 bulan jadi tetangga udah bawa banyak masalah. Termasuk temennya itu juga tetangga baruku dan lebih banyak bawa masalah. Dulu hidupku tenang seperti air mengalir. Sekarang hidupku terjal seperti air kesumpet diselokan. Bagaimana tidak bermasalah ? saat pertama kali aku ketemu mereka, temennya Ardi yang namanya Joni itu dah mulai kirim – kirim surat gak jelas lewat Ardi. Dan lebih parahnya lagi dia juga memanfaatkan adikku yang masih lugu – lugu polos gitu. Udah sinting kali tu anak. Tapi untungnya aku berbeda sekolah ma dia. Jadi aku terbebas dari mereka. Fiuhhhhhh......

Hari ini merupakan awal dari tahun ajaran baru. Mungkin bagi sebagian banyak anak SMA itu sangat membosankan. Juga termasuk aku merasakan itu. Hehe. Tidak seperti halnya, Nita, sahabat seperjuanganku dari jaman kolomenjing yang udah mencak – mencak di kelas.

“ Hanaaaaaa,,,,,,, mana anak baru yang kamu ceritain itu ? mana – mana ? “ Nita nyerocos sambil matanya jelalatan nyari sesuatu.

“ Kamu ngomong apa sih ? yah ada dirumahnya lah. Alhamdulillah dia gak sekolah disini, Nita.”

“ Hahhhh,,,,, jadi dia gak sekolah disini. Yahhhhh,,,,, kirain. Padahal aku dah semangat banget nih masuk sekolah gara – gara ceritamu itu. “ mendengar apa yang aku katakan Nita langsung lemah tak berdaya menyambut hari pertama tahun ajaran baru ini. Sebagai gantinya aku mengajak dia main ke rumahku sepulang sekolah dan dia mencak – mencak lagi.

“ Han, janji ya. Nanti kenalin aku ke anak baru itu. Aku penasaran nih. Temenmu kan juga temenku. Hehe. “ kata Nita.

“ Iya – iya. Kamu ngebet banget sih mau kenalan. Jangan – jangan mau kamu gebet tu anak baru. Harus aku peringatin nih kayaknya. “

“ HANAAAAAAAAA,,,,,,,, “

---------------------

Setelah aku menjadi penengah untuk mengenalkan mereka. Yah seperti biasa aku bilang “ Ardi, ini Nita. Nita, ini Ardi. “ dan Nita mengulurkan tangan untuk bersalaman, dan Ardi bilang gini “ Bukan muhrim, mbak. Kalo mau dapet salaman dari saya, yuk kawin dulu. “ seketika wajah Nita berubah jadi tomat. Dan kamipun melesat pergi kembali kerumah.

“ Tu anak emang agak sinting kali ya ? haduh knapa kamu punya tetangga baru kayak gitu, Han. “ kata Nita.

“ Apa aku bilang ? ya manaku tau dia pindah kesini. Skarang gak minat lagi nih ma Ardi.haha.”

“ Kalo aku liat tadi anaknya kyak gitu, sementara ini gak dulu deh. Haha.”

Dan kamipun berhenti membicarakan cowok yang bernama Ardi itu dan membahas yang lain, termasuk membahas bulan Ramadhan yang bakal datang 1 minggu lagi. Gak kerasa bulan Ramadahan udah menghampiri kita para umat Muslim dan itu artinya kita harus berpuasa sebulan penuh dan banyak melakukan amal kebaikan. Itu artinya sekolah juga pulang lebih awal ( gak nyambung banget ya ==’ ). Habisnya sekolahku pelit banget deh mau mulangin siswanya agak siang dikit gitu. Pulangnya sore mulu dan juga pelit libur dah. Nah seperti biasa paling – paling pada bulan Ramadhan lingkunganku ngadain buka bersama di depan komplek dan tadarus keliling di rumah –rumah.

Hari ini, sudah memasuki bulan Ranmadhan hari pertama. Kalo hari pertama emang puasanya kerasa banget. Tapi klo udah seminggu 2 minggu puasanya udah gak kerasa lagi. Hari ini panas banget dan gak enaknya lagi aku harus jalan kaki dari depan komplek ke rumahku yang ada di ujung komplek. Tiba – tiba dari belakang Joni dateng naik motor. Haduh, ngapain coba Joni dateng. Musibah besar deh kalo gini.

“ Han, ayo aku gonceng nih. Kasihan kamu panas – panas gini jalan kaki. Yuk naik. “ kata Joni.

“ Makasih, Jon. Kyaknya gak usah deh. Rumahku kan udah deket. Tinggal sak srut sampek kog “ aku masih baik – baik nanggepin Joni.

“ Deket apanya, han. Masih jauh gitu rumahmu. Ayok bareng gak usah malu – malu” Joni maksa

“ gak usah, Jon. Beneran deh. Aku lagi pengen jalan aja kog. Kamu duluan aja. “

“ Ahhhh,,,,,jangan – jangan kamu grogi ya kalo aku gonceng. Ngaku aja, Han. Biasa aja kale. Tuh wajahmu sampek merah. Hihihi. “ Joni mulai mancing mancing nih.

“ Eh, kamu jangan kepedean ya. Kamu seneng banget sih nganggu aku. Kayak gak da kerjaan lain j. “ aku mulai nyolot.

Saat aku lagi ribut – ributnya ma Joni, aku bersyukur banget deh ma Allah. Untung Ardi tiba – tiba dateng dan ngajak Joni main futsal, tapi aku gak yakin deh Ardi ngajak Joni main futsal beneran. Dan akhirnya aku terbebas dari jeratan Joni yang kepedean itu.

to be continued