Pages

Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 November 2012

Merantau

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah - lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi keruh karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa
jika di dalam hujan

-Imam Syafii

sedikit kata mutiara dari seorang imam yang membuatku lebih bersemangat. walaupun dalam wamtu dekat tak bisa merantau, kerahkan segala usaha untuk mendapatkan manisnya buah keberhasilan . Selamat berjuang. Selamat berpetualang. :)

Kamis, 19 April 2012

Hanya UntukMu

Di awal kelahiranku

Kuucapkan kalimat itu

Kuucapkan janji suci itu

Kuberjanji sampai mati kepadaNya

Dengan mengucap dua kalimat syahadat

Di alam bawah sadarku maupun di bawah sadarku


Di awal langkah kehidupanku

Ku berniat hanya untukNya

Setiap langkah kaki

Berharap selalu ada di jalan yang lurus

Jalan menuju Tuhan Semesta Alam

Tak lupa pula

Mengharap ridho dariNya

Di setiap waktu


Di setiap sujudku

Hanya sujud kepada diriMu

Sang Pemberi Kehidupan dalam jiwaku

Kuserahkan diriku

Kurendahkan diriku

dihadapanMu Yang Maha Agung


Di setiap dzikir – dzikirku

Aku ikut memuji kebesaranMu

Bersama angin yang berhembus

Bersama matahari yang terbit

Bersama rumput – rumput yang bergoyang

Bersama dinginnya udara


Aku mohon ampun padaMu

Atas segala dosa yang tak terkira

Yang aku lakukan setiap detiknya

Aku bersyukur padaMu

Atas segala nikmat yang melimpah

Yang kau berikan padaku

Tak terbatas, tak terhitung jumlahnya


Dan akan nikmat yang paling indah ini

Yang menjadi penyejuk keringnya jiwa

Obat sakitnya hati

Penjernih keruhnya pikiran

Penunjuk jalan kebenaran

Alhamdullilah kuucapkan kepadaMu

Ya Allah,,,

Atas nikmat islamku ini

Atas nikmat imanku ini

Yang terkadang masih terombang – ambing

Oleh ombak dilautan dunia yang kejam


Ku berjanji padaMu, Ya Allah

Akan selalu kujaga keyakinan ini

Akan selalu kutiti jalan kebenaran ini

Hanya untuk kembali lagi kepadaMu

Tempat segalanya akan kembali

Minggu, 04 Maret 2012

Deja Vu

pasti kita sudah tak asing mendengar istilah yang saya jadikan judul pada tulisan saya ini. ya, itu adalah deja vu. apa deja vu itu ? bagaimana deja vu bisa terjadi ? apa sebenarnya dia ? dan apakah deja vu benar - benar ada ? deja vu berasal dari bahasa perancis yang artinya pernah melihat. deja vu adalah suatu keadaan dimana kita seperti pernah mengalami suat peristiwa yang baru saja kita alami. pasti kita berpikir, apakah itu sebuah mimpi atau hanya angan - angan kosong dalam otak kita. padahal jelas - jelas kita belum pernah berada pada situasi tersebut

banyak para ahli yang mencoba membahas masalah deja vu ini secara ilmiah. ada yang mengatakan bahwa deja vu ini memang peristiwa yang sudah dialami sebelumnya dalam realitas maupun dalam mimpi. ini sesuai dengan artinya yang pernah melihat. tetapi pendapat ini disanggah oreh para pakar, termasuk orang - orang yang pernah mengalaminya. karena tak mungkin manusia sendiri dapat melupakan dengan mudah peristiwa yang pernah dialaminya.

penjelasan yang lainya, adalah deja vu merupakan penundaan penglihatan. bahwa sebelum mata melihat kejadian tersebut, sebenarnya realitas itu sudah sampai ke otak terlebih dahulu beberapa menit sebelumnya. karena otak dapat berkomunikasi dengan dunia luar seperti pemancar radio dan antena penerimanaya. tetapi ini juga di bantah, karena dalam penelitian oleh Akira O'Connor bersama timnya dari Universitas of Leeds, Inggris dibuktikan bahwa orang butapun bisa mengalami deja vu berupa penciuman, peraba, dan pendengaran.

lalu hari ini saya mendapatkan konsep deja vu lagi, bahwa deja vu merupakan kekonsletan otak kita. seperti saat kita melihat sesuatu dan otak memproses gambaran tersebut, dalam waktu yang hampir bersamaan ada memori otak kita yang menabrak dan membuat otak kita sedikit konslet. kalau saya pribadi, kurang paham dengan teori ini.

sedangkan teori yang lainnya mengatakan, bahwa deja vu sebenarnya adalah peristiwa yang memang telah benar - benar terjadi di "dunia paralel". karena semua peristiwa itu sebenarnya sudah ada dan tersimpan di dalam Kitab induk alam semesta yaitu Lauh Mahfuzh. yang telah diciptakan oleh Allah sang Pencipta alam semesta.

mungkin dengan pernyataan -pernyataan diatas, kita semua bingung memahami bagaimana deja vu ini terjadi. deja vu ini merupakan sebuah rahasia yang mungkin akan selalu berkembang penjelasannya, dan mungkin saja sebuah rahasia yang tak akan tersingkap dari selubungnya. semuanya hanya kembali kepada Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu. sesungguhnya segala kebenaran hanyalah milikNya semata.


Jumat, 02 Maret 2012

Ditengah Keterbatasan

Tuhan,

Kau memberikan kami kehidupan

Kami yang menjalani segalanya

Tetapi diriMu lah yang menentukan segalanya

Untuk apa sebenarnya kehidupan kami ini

Untuk apa sebenarnya segala cobaan ini

Yang tak henti – hentinya mendera kepada para hambaMu

Yang tak berdaya ditengah keterbatasan yang dimiliki

Tuhan,

Aku teriris melihat mereka, sekaligus kagum dalam satu waktu

Melihat mereka yang terjebak keterpurukan ekonomi

Yang mencekik di tengah kehidupan yang telah begitu terhimpit

Tetapi mereka tetap berani bermimpi ditengah keterbatasan ekonomi

Mimpi mereka menjadi sebuah semangat tersendiri

Untuk keluar dari belenggu yang terus membayangi

Untuk mengubah takdir dari bawah menuju ke atas

Tuhan,

Aku ikut menderita merasakan sakitnya

Mereka yang harus kau beri penyakit

Yang bersarang dalam tubuh yang tak pernah mereka inginkan

Harus rela menerima rasa perih setiap saat

Tak pernah bisa membagi rasa sakit mereka pada sekitarnya

Dan selalu tabah merasakannya

Tetapi, semangat mereka sungguh luar biasa

Ditengah keterbatasan fisik

Malah merekalah yang lebih mengerti bagaimana makna hidup yang sebenarnya

Merekalah yang tau bagaimana memanfaatkan hidup dengan sebaik – baiknya

Karena mereka tau hidup mereka tak sebentar

Dan tak ada lagi yang lebih penting daripada hidup mereka

Tuhan,

Jika aku melihat, membaca, mempelajari segala problematika hidup

Di dunia ini

Aku bersyukur kepadaMu

Memberiku kehidupan yang lebih dari layak

Memberikan tubuh yang sehat dengan sedikit keterbatasan

Tetapi,aku tau Tuhan

Tak ada manusia yang tak memiliki keterbatasan

Tak ada manusia yang selamanya menderita dan selamanya bahagia

Hidup ini bagaikan pegunungan yang harus didaki

Jika kami daki terus menerus, puncaknya akan kami raih

Tetapi terkadang kami lupa setelah puncak masih ada lembah

Yang dapat menjatuhkan kapanpun kami lengah

Aku takjub pada mereka, Ya Allah

Dengan semangat mereka

Dengan kesabaran, ketabahan, dan kegigihan mereka

Ditengah keterbatasan

Diriku saja yang tidak ditengah keterbatasan seperti mereka

Masih tak bisa memanfaatkan kehidupan ini

Jadi, Ya Allah

Berilah aku segala sesuatu yang baik bagiku

Berilah aku jalan untuk mimpi – mimpiku

Dan berilah aku petunjuk untuk menuju kehadapanMu

Ditengah keterbatasan yang tak terelakkan ini


Senin, 20 Februari 2012

(Resensi Buku) 99 Cahaya di Langit Eropa

jika kau membaca buku ini, kau akan merasa dibawa ke masa lalu, dibawa kemasa dimana Islam bersinar terang ditengah - tengah masa kegelapan Eropa. seperti lahirnya Rosulullah yang membawa cahaya terang ditengah kaum Jahiliyah, seperti itulah Islam dimasa lalu yang menerangi Eropa. begitu banyak kenangan yang tersimpan di benua tersebut tanpa kita umat Islam mengetahuinya. begitu hebatnya peradaban Islam yang memepengaruhi peradaban - peradaban kuno yang ada di Eropa.

tapi sekarang itu hanyalah kenangan belaka. kalau kita bicara Eropa sekarang mungkin tak ada Islam yang tersisa disana. hanyalah sejarah yang mengetahuinya, tetapi terkadang sejarah juga menangis sedih karena terabaikan dan disalah artikan oleh bangsa sekarang. hanya masa lalulah yang menjadi saksi bisu akan kejayaan Islam. jika kau membaca buku ini, kau akan merasa bangga akan Islam, tetapi kau juga akan merasa miris hingga ingin menangis karena peninggalan masa lalu itu telah hancur dan berubah karena dunia yang kejam ini. karena perebutan kekuasaan yang mengatas namakan agama.

bagaimana hatimu takkan tersentuh jika seorang pejuang yang mengatas namakan Islam yang dibelanya dalam pertempuran, dianggap pembunuh oleh bangsa Eropa. bagaimana kau tak menanggis melihat ukiran ayat - ayat Allah, hancur dan terkikis dengan sengaja. bagaimana kau tak merasa rindu jika sebuah menara masjid yang dulu mengumandangkan adzan, tak pernah lagi mengumandangkannya.

sungguh aku ingin bisa melakukan perjalanan seperti Hanum Salsabilla Rais dan Rangga Almahendra hingga bisa membuka mata semua umat Islam sekarang. yang tersisa sekarang hanyalah keterpurukan dan penyesalan. semoga suatu hari nanti aku bisa berkeliling Eropa dan melihat lewat mataku sendiri bagaimana sejarah berbicara kebenarannya. Amin,,,

Rabu, 15 Februari 2012

Memadukan Ilmu dan Amal

Ibnu Bathah menuturkan sebuah riwayat dari Masruq, dari Abdullah yang berkata, “Sesungguhnya kalian berada pada suatu zaman yang di dalamnya beramal adalah lebih baik daripada berpendapat. Kelak akan datang suatu zaman yang di dalamnya berpendapat lebih baik daripada beramal.” (Ibn Baththah, Al-Ibanah al-Kubra, I/207).

Ath-Thabrani juga meriwayatkan sebuah hadis dari penuturan al-’Ala bin al-Harits, dari Hizam bin Hakim bin Hizam, dari ayahnya, dari Baginda Nabi Muhammad saw. yang bersabda, “Kalian benar-benar berada pada suatu zaman yang di dalamnya banyak sekali fuqaha dan sedikit sekali para ahli pidato…Pada zaman ini amal adalah lebih baik daripada ilmu. Kelak akan datang suatu zaman yang di dalamnya sedikit sekali fuqaha dan banyak para ahli pidato…Pada zaman ini ilmu lebih baik daripada amal.” (Ath-Thabrani, Al-Mu’jam al-Kabir III/236)

Dari kedua hadis di atas setidaknya dapat dipahami bahwa pada zaman yang pertama (yakni generasi Sahabat Nabi saw.) kebanyakan orang memahami Islam secara mendalam. Karena itu, yang dibutuhkan saat itu adalah mengamalkan apa yang telah dipahami. Sebaliknya, pada zaman yang kedua-kemungkinan adalah zaman kita hari ini-saat orang-orang yang memahami Islam secara mendalam sangat sedikit maka banyak orang yang beramal tanpa ilmu. Karena itu, pada zaman kini memahami dan mendalami Islam-yang kemudian diamalkan-tentu lebih penting daripada beramal tanpa didasarkan pada ilmu.

Kesimpulan ini setidaknya sesuai dengan makna riwayat yang diungkapkan oleh Imam Malik saat menuturkan hadis penuturan Yahya bin Said yang berkata bahwa Abdullah bin Mas’ud pernah berkata kepada seseorang, “Sesungguhnya engkau berada pada suatu zaman yang di dalamnya banyak para fuqaha dan sedikit para pembaca al-Quran yang menjaga hukum-hukumnya dan tidak terlalu fokus pada huruf-hurufnya…Kelak akan datang kepada manusia suatu zaman yang di dalamnya sedikit para fuqaha dan banyak para pembaca al-Qurannya yang menjaga huruf-hurufnya tetapi mengabaikan hukum-hukumnya.” (Imam Malik, Al-Muwaththa’, II/44).

Dari hadis ini setidaknya dapat dipahami tiga perkara. Pertama: Ibn Mas’ud tidak bermaksud menyatakan orang-orang yang membaca al-Quran pada zamannya sedikit. Namun, yang beliau maksud bahwa orang-orang yang membaca al-Quran pada zamannya-yang perhatiannya hanya pada bacaan tanpa memperhatikan hukum-hukumnya-amatlah sedikit. Dengan kata lain, pada zaman Sahabat Nabi saw. orang-orang biasa membaca al-Quran sekaligus memahami dan mengamalkan hukum-hukumnya, dan tidak memokuskan perhatiannya pada huruf-hurufnya, karena memang al-Quran adalah bahasa mereka. Sebaliknya, pada zaman kini-zaman yang mungkin diisyaratkan dalam hadis ini oleh Ibn Mas’ud-banyak orang membaca al-Quran hanya fokus pada bacaan (huruf-huruf)-nya saja, tetapi tidak memahami apalagi mengamalkan hukum-hukumnya.

Kedua: Akan datang suatu zaman-yang tentu berbeda dengan zaman Ibn Mas’ud alias zaman Sahabat Nabi saw.-yang di dalamnya sedikit para fuqaha (ahli fikih). Maksudnya, pada zaman itu-boleh jadi zaman kita hari ini-orang-orang yang memahami Islam secara mendalam amatlah sedikit. Kebanyakan mereka adalah yang bisa dan biasa membaca al-Quran tetapi tidak memahami isinya secara mendalam. Tentu hadis ini tidak sedang mencela para pembaca dan penghapal al-Quran. Yang dicela adalah sedikitnya para fuqaha dari kalangan mereka karena tujuan akhir mereka sebatas membaca dan menghapal al-Quran, bukan memahami isinya apalagi mengamalkan dan menerapkan hukum-hukumnya.

Ketiga: Akan datang suatu zaman yang di dalamnya huruf-huruf al-Quran benar-benar dijaga, tetapi hukum-hukumnya ditelantarkan. Maknanya, para pemelihara mushaf al-Quran jumlahnya banyak. Namun, kebanyakan mereka tidak memahami isi al-Quran itu. Tidak pula pada saat itu-yang sesungguhnya telah terjadi pada zaman kini-manusia dipimpin oleh imam atau para penguasa yang menerapkan al-Quran di tengah-tengah mereka. Akibatnya, hukum-hukum al-Quran ditelantarkan. Ini jelas bertentangan dengan zaman Sahabat Nabi saw. saat manusia dipimpin oleh para pemimpin yang berhukum dengan al-Quran dan menerapkan al-Quran kepada mereka (Lihat: Al-Muntaqa Syarh al-Muwaththa’, I/429).

Alhasil, pesan inti dari hadis di atas sesungguhnya adalah: Pertama, dorongan kepada setiap Muslim untuk membaca dan memahami al-Quran atau mendalami Islam. Kedua, mengamalkan isi al-Quran termasuk berusaha terus mendorong para penguasa untuk menerapkan hukum-hukumnya (syariah Islam) di tengah-tengah masyarakat.

Inilah wujud nyata dari sikap memadukan ilmu dan amal. Sudahkah kita melakukannya? WalLahu a’lam bi ash-shawab

Detik - Detik Saat Nabi Muhammad Lahir

Pada malam itu, setan-setan dilarang naik ke langit, Padahal sebelumnya, mereka dapat naik-turun langit untuk mendengarkan percakapan-percakapan yang dilakukan para malaikat. Ketika mereka dilarang naik ke langit, maka mereka berkumpul pada Iblis alaihila’nah, Mereka pun berkata, “dahulu kami bisa naik ke langit, tetapi hari ini kami telah dilarang untuk naik”.
Iblis menjawab, “Menyebarlah kalian dimuka bumi dari barat sampai ke timur, dan perhatikan dengan seksama apa sebenarnya yang telah terjadi !”
Mereka lalu menyebar. Akhirnya setelah mengelilingi timur dan barat, sampailah mereka ke kota Mekkah. Disana tampak oleh mereka seorang bayi mulia sedang dikelilingi para malaikat dan memancarkan cahaya dari dirinya hingga mencuat ke langit, sedangkan malaikat-malaikat itu saling memberi ucapan selamat satu dengan yang lainnya kepadanya.
Kemudian kembalilah setan-setan itu menghadap kepada iblis, sambil menceritakan semua apa yang telah mereka saksikan itu. Maka iblis pun berteriak dengan suara yang sangat dahsyat kerasnya, seraya berkata,“Aaaaaaarrggghhhh !!!!!!!!!!, telah keluar “Ayatul‘alam” dan rahmat bagi bani Adam, karena itulah kalian telah dicegah untuk naik ke langit, tempat pandangannya dan pandangan ummatnya!!!!”.

*

Fathul Bari mengabadikan, pada malam hari itu juga, kerajaan Romawi dikejutkan dengan runtuhnya gereja-gereja yang mereka dirikan. Di Persia, Kaisar Kisra dikejutkan dengan peristiwa retaknya mahligai kekaisaran serta runtuhnya 14 buah tiang seri kerjaan. Para majusi pun tak kalah heran. Api dalam kuil Majusi yang telah menyala selama 1000 tahun itu padam.
Penduduka Mekkah pun tak kalah sontak dengan apa yang terjadi di depan Ka’bah. Mereka mendengar suara tanpa rupa dari tiap-tiap sudut Ka’bah. Dari sudut pertama terdengar ucapan, “Telah datang kebenaran (Islam), dan kebathilan (kekufuran) tidak akan kembali lagi”.
Dari sudut kedua terdengar ucapan, “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”.
Dari sudut ketiga terdengar ucapan : “Telah datang kepadamu cahaya (Nabi) dari Allah dan kitab (Al-Qur’an) yang menerangkan”.
Dan dari sudut keempat terdengar ucapan, “Hai Nabi, sesungguhnya kami mengutusmu untuk menjadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan dan untuk menjadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk menjadi cahaya yang menerangi”.
Kita mengetahui, kelak bayi ini akan tumbuh menjadi anak yang jujur dan menjadi pemuda yang amanah. Ia akan menjadi seorang lelaki yang akan mengubah wajah sejarah. Lelaki itu Muhammad. Namanya terpuji di langit dan di bumi.

“Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.
Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti akan lenyap”.
QS Al Israa (17) : 81

source : http://irvanrahman.wordpress.com

Kamis, 09 Februari 2012

Renungan di Tengah Jalan

Begitu banyak hal yang tak pernah terpikirkan sedikitpun oleh kita. Ada begitu banyak waktu yang kita buang sia – sia. Ada hal yang lebih penting, dan lebih penting dari semua yang ada didunia ini. dan hanya sebagian kecil dari manusia yang mungkin telah menuju hal terpenting tersebut, jalan pulang dari semua masalah pelik di dunia ini, jalan lurus yang menuju sebuah kebenaran yang hakiki, dan sebuah pintu menuju kebahagian yang kekal.

Mungkin tak pernah sedalam ini aku memikirkan tujuan hidup manusia di muka bumi. Karena selama iniaku hanya menginginkan sukses, hidup dengan berkecukupan, menjadi orang yang berguna, membahagiakan orang tua, dan semua hal yang berbau duniawi. Tetapi,apakah apakah semua itu tujuan sebenarnya aku hidup ? apakah hanya kesuksesan yang ingin aku raih ? tidakkah ada tujuan yang lebih penting dari semua itu dalam hidup didunia ini ?

Hari ini, pikiranku terbuka oleh hal – hal yang begitu t ak pernah aku memikirkannya begitu dalam seperti saat ini. tujuan hidupku, tujuan setiap manusia dibumi. Setiap manusia telah Allah ciptakan dari sebuah ruh yang ditupkan sebuah kehidupan didalamnya. Saat kita terlahir kedunia ini, itu adalah sebuah takdir. Kita meninggalkan Sang Pencipta dan lahir kedunia ini dengan tanggisan kesedihan karena harus berpisah dan hidup kedunia yang kejam. Dan saat itulah semua kehidupan berawal.

Ribuan tahun yang lalu, Allah menciptakan manusi paling mulia dimuka bumi ini, Nabi Muhammad SAW. Beliaulah yang membawa cahaya terang kebumi dan menjadi suri teladan umat manusia. Tak ada manusia yang paling baik selain Nabi Muhammad SAW. Patutlah kita bersyukur dapat merasakan ajaran yang beliau berikan, yaitu Islam. Wafatnya beliau merupakan merupakan kesedihan yang mendalam bagi seluruh umat islam dimuka bumi.

Aku bersyukur terlahir dalam keadaan islam. Tetapi, apakah aku benar – benar mengenal Islam yang diajarkan olah beliau ? apakah islamku sekarang benar –benar seperti yang dicontohkan Rosulullah ? hari ini aku berfikir, bagaimana aku bisa mengaku Islam jika aku tak mengenal islam. Bagiku islam merupakan sebuah takdir yang dibawa sejak lahir dari orangtua kita yang juga Islam. Sehingga tak pernah kita ingin mengenal Islam begitu kuatnya. Tetapi bedakan dengan para mualaf yang penasaran, mencari, dan bertemu islam setalah mengenal islam dengan begitu dalam dan mendapat hidayah dari-Nya. Semua itu akan terasa lain dihati. Terkadang aku iri pada orang –orang yang begitu mengenal islam. Bisa merasakan bagaimana indahnya islam dan kasih sayang Sang Pencipta.

Bagaimana bisa kita tak mengenal islam ? padahal Allah telah menurunkan wahyu-Nya melalui Nabi Muhammad SAW. Bagaimana bisa kita tersesat padahal kita telah diberi Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup ? karena kita tak pernah benar – benar memahami Al-Qur’an. Sekarang Al-Qur’an hanya sebatas kitab yang kita baca tetapi, apakah pernah kita memahami apa yang kita baca ? kita mengkhatamkan begitu banyak buku – buku dan mempelajari begitu banyak ilmu pengetahuan, tetapi berapa banyakkah kita mengkhatamkan dan mempelajari Al-Qur’an ?

Hari ini, aku merenungkan semuanya di tengah perjalanan hidup ini. aku selalu mencari jalan kebenaran. Dan jalan yang benar itu hanyalah milik Allah semata. Tujuan hidup ini adalah kembali kepada Allah. Kita diciptakan oleh-Nya dan kembali juga kepada-Nya.

Senin, 21 Maret 2011

Negeri Para Bedebah

Ada satu negeri yang dihuni para bedebah

Lautnya pernah dibelah tongkat Musa

Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah

Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?

Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah

Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah

Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah

Orang baik dan bersih dianggap salah

Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan

Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah

Karena hanya penguasa yang boleh marah

Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah

Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah

Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum

Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah

Usirlah mereka dengan revolusi

Bila tak mampu dengan revolusi,

Dengan demonstrasi

Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi

Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan

Karya:Adhie Massardi

Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 November 2012

Merantau

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah - lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi keruh karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa
jika di dalam hujan

-Imam Syafii

sedikit kata mutiara dari seorang imam yang membuatku lebih bersemangat. walaupun dalam wamtu dekat tak bisa merantau, kerahkan segala usaha untuk mendapatkan manisnya buah keberhasilan . Selamat berjuang. Selamat berpetualang. :)

Kamis, 19 April 2012

Hanya UntukMu

Di awal kelahiranku

Kuucapkan kalimat itu

Kuucapkan janji suci itu

Kuberjanji sampai mati kepadaNya

Dengan mengucap dua kalimat syahadat

Di alam bawah sadarku maupun di bawah sadarku


Di awal langkah kehidupanku

Ku berniat hanya untukNya

Setiap langkah kaki

Berharap selalu ada di jalan yang lurus

Jalan menuju Tuhan Semesta Alam

Tak lupa pula

Mengharap ridho dariNya

Di setiap waktu


Di setiap sujudku

Hanya sujud kepada diriMu

Sang Pemberi Kehidupan dalam jiwaku

Kuserahkan diriku

Kurendahkan diriku

dihadapanMu Yang Maha Agung


Di setiap dzikir – dzikirku

Aku ikut memuji kebesaranMu

Bersama angin yang berhembus

Bersama matahari yang terbit

Bersama rumput – rumput yang bergoyang

Bersama dinginnya udara


Aku mohon ampun padaMu

Atas segala dosa yang tak terkira

Yang aku lakukan setiap detiknya

Aku bersyukur padaMu

Atas segala nikmat yang melimpah

Yang kau berikan padaku

Tak terbatas, tak terhitung jumlahnya


Dan akan nikmat yang paling indah ini

Yang menjadi penyejuk keringnya jiwa

Obat sakitnya hati

Penjernih keruhnya pikiran

Penunjuk jalan kebenaran

Alhamdullilah kuucapkan kepadaMu

Ya Allah,,,

Atas nikmat islamku ini

Atas nikmat imanku ini

Yang terkadang masih terombang – ambing

Oleh ombak dilautan dunia yang kejam


Ku berjanji padaMu, Ya Allah

Akan selalu kujaga keyakinan ini

Akan selalu kutiti jalan kebenaran ini

Hanya untuk kembali lagi kepadaMu

Tempat segalanya akan kembali

Minggu, 04 Maret 2012

Deja Vu

pasti kita sudah tak asing mendengar istilah yang saya jadikan judul pada tulisan saya ini. ya, itu adalah deja vu. apa deja vu itu ? bagaimana deja vu bisa terjadi ? apa sebenarnya dia ? dan apakah deja vu benar - benar ada ? deja vu berasal dari bahasa perancis yang artinya pernah melihat. deja vu adalah suatu keadaan dimana kita seperti pernah mengalami suat peristiwa yang baru saja kita alami. pasti kita berpikir, apakah itu sebuah mimpi atau hanya angan - angan kosong dalam otak kita. padahal jelas - jelas kita belum pernah berada pada situasi tersebut

banyak para ahli yang mencoba membahas masalah deja vu ini secara ilmiah. ada yang mengatakan bahwa deja vu ini memang peristiwa yang sudah dialami sebelumnya dalam realitas maupun dalam mimpi. ini sesuai dengan artinya yang pernah melihat. tetapi pendapat ini disanggah oreh para pakar, termasuk orang - orang yang pernah mengalaminya. karena tak mungkin manusia sendiri dapat melupakan dengan mudah peristiwa yang pernah dialaminya.

penjelasan yang lainya, adalah deja vu merupakan penundaan penglihatan. bahwa sebelum mata melihat kejadian tersebut, sebenarnya realitas itu sudah sampai ke otak terlebih dahulu beberapa menit sebelumnya. karena otak dapat berkomunikasi dengan dunia luar seperti pemancar radio dan antena penerimanaya. tetapi ini juga di bantah, karena dalam penelitian oleh Akira O'Connor bersama timnya dari Universitas of Leeds, Inggris dibuktikan bahwa orang butapun bisa mengalami deja vu berupa penciuman, peraba, dan pendengaran.

lalu hari ini saya mendapatkan konsep deja vu lagi, bahwa deja vu merupakan kekonsletan otak kita. seperti saat kita melihat sesuatu dan otak memproses gambaran tersebut, dalam waktu yang hampir bersamaan ada memori otak kita yang menabrak dan membuat otak kita sedikit konslet. kalau saya pribadi, kurang paham dengan teori ini.

sedangkan teori yang lainnya mengatakan, bahwa deja vu sebenarnya adalah peristiwa yang memang telah benar - benar terjadi di "dunia paralel". karena semua peristiwa itu sebenarnya sudah ada dan tersimpan di dalam Kitab induk alam semesta yaitu Lauh Mahfuzh. yang telah diciptakan oleh Allah sang Pencipta alam semesta.

mungkin dengan pernyataan -pernyataan diatas, kita semua bingung memahami bagaimana deja vu ini terjadi. deja vu ini merupakan sebuah rahasia yang mungkin akan selalu berkembang penjelasannya, dan mungkin saja sebuah rahasia yang tak akan tersingkap dari selubungnya. semuanya hanya kembali kepada Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu. sesungguhnya segala kebenaran hanyalah milikNya semata.


Jumat, 02 Maret 2012

Ditengah Keterbatasan

Tuhan,

Kau memberikan kami kehidupan

Kami yang menjalani segalanya

Tetapi diriMu lah yang menentukan segalanya

Untuk apa sebenarnya kehidupan kami ini

Untuk apa sebenarnya segala cobaan ini

Yang tak henti – hentinya mendera kepada para hambaMu

Yang tak berdaya ditengah keterbatasan yang dimiliki

Tuhan,

Aku teriris melihat mereka, sekaligus kagum dalam satu waktu

Melihat mereka yang terjebak keterpurukan ekonomi

Yang mencekik di tengah kehidupan yang telah begitu terhimpit

Tetapi mereka tetap berani bermimpi ditengah keterbatasan ekonomi

Mimpi mereka menjadi sebuah semangat tersendiri

Untuk keluar dari belenggu yang terus membayangi

Untuk mengubah takdir dari bawah menuju ke atas

Tuhan,

Aku ikut menderita merasakan sakitnya

Mereka yang harus kau beri penyakit

Yang bersarang dalam tubuh yang tak pernah mereka inginkan

Harus rela menerima rasa perih setiap saat

Tak pernah bisa membagi rasa sakit mereka pada sekitarnya

Dan selalu tabah merasakannya

Tetapi, semangat mereka sungguh luar biasa

Ditengah keterbatasan fisik

Malah merekalah yang lebih mengerti bagaimana makna hidup yang sebenarnya

Merekalah yang tau bagaimana memanfaatkan hidup dengan sebaik – baiknya

Karena mereka tau hidup mereka tak sebentar

Dan tak ada lagi yang lebih penting daripada hidup mereka

Tuhan,

Jika aku melihat, membaca, mempelajari segala problematika hidup

Di dunia ini

Aku bersyukur kepadaMu

Memberiku kehidupan yang lebih dari layak

Memberikan tubuh yang sehat dengan sedikit keterbatasan

Tetapi,aku tau Tuhan

Tak ada manusia yang tak memiliki keterbatasan

Tak ada manusia yang selamanya menderita dan selamanya bahagia

Hidup ini bagaikan pegunungan yang harus didaki

Jika kami daki terus menerus, puncaknya akan kami raih

Tetapi terkadang kami lupa setelah puncak masih ada lembah

Yang dapat menjatuhkan kapanpun kami lengah

Aku takjub pada mereka, Ya Allah

Dengan semangat mereka

Dengan kesabaran, ketabahan, dan kegigihan mereka

Ditengah keterbatasan

Diriku saja yang tidak ditengah keterbatasan seperti mereka

Masih tak bisa memanfaatkan kehidupan ini

Jadi, Ya Allah

Berilah aku segala sesuatu yang baik bagiku

Berilah aku jalan untuk mimpi – mimpiku

Dan berilah aku petunjuk untuk menuju kehadapanMu

Ditengah keterbatasan yang tak terelakkan ini


Senin, 20 Februari 2012

(Resensi Buku) 99 Cahaya di Langit Eropa

jika kau membaca buku ini, kau akan merasa dibawa ke masa lalu, dibawa kemasa dimana Islam bersinar terang ditengah - tengah masa kegelapan Eropa. seperti lahirnya Rosulullah yang membawa cahaya terang ditengah kaum Jahiliyah, seperti itulah Islam dimasa lalu yang menerangi Eropa. begitu banyak kenangan yang tersimpan di benua tersebut tanpa kita umat Islam mengetahuinya. begitu hebatnya peradaban Islam yang memepengaruhi peradaban - peradaban kuno yang ada di Eropa.

tapi sekarang itu hanyalah kenangan belaka. kalau kita bicara Eropa sekarang mungkin tak ada Islam yang tersisa disana. hanyalah sejarah yang mengetahuinya, tetapi terkadang sejarah juga menangis sedih karena terabaikan dan disalah artikan oleh bangsa sekarang. hanya masa lalulah yang menjadi saksi bisu akan kejayaan Islam. jika kau membaca buku ini, kau akan merasa bangga akan Islam, tetapi kau juga akan merasa miris hingga ingin menangis karena peninggalan masa lalu itu telah hancur dan berubah karena dunia yang kejam ini. karena perebutan kekuasaan yang mengatas namakan agama.

bagaimana hatimu takkan tersentuh jika seorang pejuang yang mengatas namakan Islam yang dibelanya dalam pertempuran, dianggap pembunuh oleh bangsa Eropa. bagaimana kau tak menanggis melihat ukiran ayat - ayat Allah, hancur dan terkikis dengan sengaja. bagaimana kau tak merasa rindu jika sebuah menara masjid yang dulu mengumandangkan adzan, tak pernah lagi mengumandangkannya.

sungguh aku ingin bisa melakukan perjalanan seperti Hanum Salsabilla Rais dan Rangga Almahendra hingga bisa membuka mata semua umat Islam sekarang. yang tersisa sekarang hanyalah keterpurukan dan penyesalan. semoga suatu hari nanti aku bisa berkeliling Eropa dan melihat lewat mataku sendiri bagaimana sejarah berbicara kebenarannya. Amin,,,

Rabu, 15 Februari 2012

Memadukan Ilmu dan Amal

Ibnu Bathah menuturkan sebuah riwayat dari Masruq, dari Abdullah yang berkata, “Sesungguhnya kalian berada pada suatu zaman yang di dalamnya beramal adalah lebih baik daripada berpendapat. Kelak akan datang suatu zaman yang di dalamnya berpendapat lebih baik daripada beramal.” (Ibn Baththah, Al-Ibanah al-Kubra, I/207).

Ath-Thabrani juga meriwayatkan sebuah hadis dari penuturan al-’Ala bin al-Harits, dari Hizam bin Hakim bin Hizam, dari ayahnya, dari Baginda Nabi Muhammad saw. yang bersabda, “Kalian benar-benar berada pada suatu zaman yang di dalamnya banyak sekali fuqaha dan sedikit sekali para ahli pidato…Pada zaman ini amal adalah lebih baik daripada ilmu. Kelak akan datang suatu zaman yang di dalamnya sedikit sekali fuqaha dan banyak para ahli pidato…Pada zaman ini ilmu lebih baik daripada amal.” (Ath-Thabrani, Al-Mu’jam al-Kabir III/236)

Dari kedua hadis di atas setidaknya dapat dipahami bahwa pada zaman yang pertama (yakni generasi Sahabat Nabi saw.) kebanyakan orang memahami Islam secara mendalam. Karena itu, yang dibutuhkan saat itu adalah mengamalkan apa yang telah dipahami. Sebaliknya, pada zaman yang kedua-kemungkinan adalah zaman kita hari ini-saat orang-orang yang memahami Islam secara mendalam sangat sedikit maka banyak orang yang beramal tanpa ilmu. Karena itu, pada zaman kini memahami dan mendalami Islam-yang kemudian diamalkan-tentu lebih penting daripada beramal tanpa didasarkan pada ilmu.

Kesimpulan ini setidaknya sesuai dengan makna riwayat yang diungkapkan oleh Imam Malik saat menuturkan hadis penuturan Yahya bin Said yang berkata bahwa Abdullah bin Mas’ud pernah berkata kepada seseorang, “Sesungguhnya engkau berada pada suatu zaman yang di dalamnya banyak para fuqaha dan sedikit para pembaca al-Quran yang menjaga hukum-hukumnya dan tidak terlalu fokus pada huruf-hurufnya…Kelak akan datang kepada manusia suatu zaman yang di dalamnya sedikit para fuqaha dan banyak para pembaca al-Qurannya yang menjaga huruf-hurufnya tetapi mengabaikan hukum-hukumnya.” (Imam Malik, Al-Muwaththa’, II/44).

Dari hadis ini setidaknya dapat dipahami tiga perkara. Pertama: Ibn Mas’ud tidak bermaksud menyatakan orang-orang yang membaca al-Quran pada zamannya sedikit. Namun, yang beliau maksud bahwa orang-orang yang membaca al-Quran pada zamannya-yang perhatiannya hanya pada bacaan tanpa memperhatikan hukum-hukumnya-amatlah sedikit. Dengan kata lain, pada zaman Sahabat Nabi saw. orang-orang biasa membaca al-Quran sekaligus memahami dan mengamalkan hukum-hukumnya, dan tidak memokuskan perhatiannya pada huruf-hurufnya, karena memang al-Quran adalah bahasa mereka. Sebaliknya, pada zaman kini-zaman yang mungkin diisyaratkan dalam hadis ini oleh Ibn Mas’ud-banyak orang membaca al-Quran hanya fokus pada bacaan (huruf-huruf)-nya saja, tetapi tidak memahami apalagi mengamalkan hukum-hukumnya.

Kedua: Akan datang suatu zaman-yang tentu berbeda dengan zaman Ibn Mas’ud alias zaman Sahabat Nabi saw.-yang di dalamnya sedikit para fuqaha (ahli fikih). Maksudnya, pada zaman itu-boleh jadi zaman kita hari ini-orang-orang yang memahami Islam secara mendalam amatlah sedikit. Kebanyakan mereka adalah yang bisa dan biasa membaca al-Quran tetapi tidak memahami isinya secara mendalam. Tentu hadis ini tidak sedang mencela para pembaca dan penghapal al-Quran. Yang dicela adalah sedikitnya para fuqaha dari kalangan mereka karena tujuan akhir mereka sebatas membaca dan menghapal al-Quran, bukan memahami isinya apalagi mengamalkan dan menerapkan hukum-hukumnya.

Ketiga: Akan datang suatu zaman yang di dalamnya huruf-huruf al-Quran benar-benar dijaga, tetapi hukum-hukumnya ditelantarkan. Maknanya, para pemelihara mushaf al-Quran jumlahnya banyak. Namun, kebanyakan mereka tidak memahami isi al-Quran itu. Tidak pula pada saat itu-yang sesungguhnya telah terjadi pada zaman kini-manusia dipimpin oleh imam atau para penguasa yang menerapkan al-Quran di tengah-tengah mereka. Akibatnya, hukum-hukum al-Quran ditelantarkan. Ini jelas bertentangan dengan zaman Sahabat Nabi saw. saat manusia dipimpin oleh para pemimpin yang berhukum dengan al-Quran dan menerapkan al-Quran kepada mereka (Lihat: Al-Muntaqa Syarh al-Muwaththa’, I/429).

Alhasil, pesan inti dari hadis di atas sesungguhnya adalah: Pertama, dorongan kepada setiap Muslim untuk membaca dan memahami al-Quran atau mendalami Islam. Kedua, mengamalkan isi al-Quran termasuk berusaha terus mendorong para penguasa untuk menerapkan hukum-hukumnya (syariah Islam) di tengah-tengah masyarakat.

Inilah wujud nyata dari sikap memadukan ilmu dan amal. Sudahkah kita melakukannya? WalLahu a’lam bi ash-shawab

Detik - Detik Saat Nabi Muhammad Lahir

Pada malam itu, setan-setan dilarang naik ke langit, Padahal sebelumnya, mereka dapat naik-turun langit untuk mendengarkan percakapan-percakapan yang dilakukan para malaikat. Ketika mereka dilarang naik ke langit, maka mereka berkumpul pada Iblis alaihila’nah, Mereka pun berkata, “dahulu kami bisa naik ke langit, tetapi hari ini kami telah dilarang untuk naik”.
Iblis menjawab, “Menyebarlah kalian dimuka bumi dari barat sampai ke timur, dan perhatikan dengan seksama apa sebenarnya yang telah terjadi !”
Mereka lalu menyebar. Akhirnya setelah mengelilingi timur dan barat, sampailah mereka ke kota Mekkah. Disana tampak oleh mereka seorang bayi mulia sedang dikelilingi para malaikat dan memancarkan cahaya dari dirinya hingga mencuat ke langit, sedangkan malaikat-malaikat itu saling memberi ucapan selamat satu dengan yang lainnya kepadanya.
Kemudian kembalilah setan-setan itu menghadap kepada iblis, sambil menceritakan semua apa yang telah mereka saksikan itu. Maka iblis pun berteriak dengan suara yang sangat dahsyat kerasnya, seraya berkata,“Aaaaaaarrggghhhh !!!!!!!!!!, telah keluar “Ayatul‘alam” dan rahmat bagi bani Adam, karena itulah kalian telah dicegah untuk naik ke langit, tempat pandangannya dan pandangan ummatnya!!!!”.

*

Fathul Bari mengabadikan, pada malam hari itu juga, kerajaan Romawi dikejutkan dengan runtuhnya gereja-gereja yang mereka dirikan. Di Persia, Kaisar Kisra dikejutkan dengan peristiwa retaknya mahligai kekaisaran serta runtuhnya 14 buah tiang seri kerjaan. Para majusi pun tak kalah heran. Api dalam kuil Majusi yang telah menyala selama 1000 tahun itu padam.
Penduduka Mekkah pun tak kalah sontak dengan apa yang terjadi di depan Ka’bah. Mereka mendengar suara tanpa rupa dari tiap-tiap sudut Ka’bah. Dari sudut pertama terdengar ucapan, “Telah datang kebenaran (Islam), dan kebathilan (kekufuran) tidak akan kembali lagi”.
Dari sudut kedua terdengar ucapan, “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”.
Dari sudut ketiga terdengar ucapan : “Telah datang kepadamu cahaya (Nabi) dari Allah dan kitab (Al-Qur’an) yang menerangkan”.
Dan dari sudut keempat terdengar ucapan, “Hai Nabi, sesungguhnya kami mengutusmu untuk menjadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan dan untuk menjadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk menjadi cahaya yang menerangi”.
Kita mengetahui, kelak bayi ini akan tumbuh menjadi anak yang jujur dan menjadi pemuda yang amanah. Ia akan menjadi seorang lelaki yang akan mengubah wajah sejarah. Lelaki itu Muhammad. Namanya terpuji di langit dan di bumi.

“Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.
Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti akan lenyap”.
QS Al Israa (17) : 81

source : http://irvanrahman.wordpress.com

Kamis, 09 Februari 2012

Renungan di Tengah Jalan

Begitu banyak hal yang tak pernah terpikirkan sedikitpun oleh kita. Ada begitu banyak waktu yang kita buang sia – sia. Ada hal yang lebih penting, dan lebih penting dari semua yang ada didunia ini. dan hanya sebagian kecil dari manusia yang mungkin telah menuju hal terpenting tersebut, jalan pulang dari semua masalah pelik di dunia ini, jalan lurus yang menuju sebuah kebenaran yang hakiki, dan sebuah pintu menuju kebahagian yang kekal.

Mungkin tak pernah sedalam ini aku memikirkan tujuan hidup manusia di muka bumi. Karena selama iniaku hanya menginginkan sukses, hidup dengan berkecukupan, menjadi orang yang berguna, membahagiakan orang tua, dan semua hal yang berbau duniawi. Tetapi,apakah apakah semua itu tujuan sebenarnya aku hidup ? apakah hanya kesuksesan yang ingin aku raih ? tidakkah ada tujuan yang lebih penting dari semua itu dalam hidup didunia ini ?

Hari ini, pikiranku terbuka oleh hal – hal yang begitu t ak pernah aku memikirkannya begitu dalam seperti saat ini. tujuan hidupku, tujuan setiap manusia dibumi. Setiap manusia telah Allah ciptakan dari sebuah ruh yang ditupkan sebuah kehidupan didalamnya. Saat kita terlahir kedunia ini, itu adalah sebuah takdir. Kita meninggalkan Sang Pencipta dan lahir kedunia ini dengan tanggisan kesedihan karena harus berpisah dan hidup kedunia yang kejam. Dan saat itulah semua kehidupan berawal.

Ribuan tahun yang lalu, Allah menciptakan manusi paling mulia dimuka bumi ini, Nabi Muhammad SAW. Beliaulah yang membawa cahaya terang kebumi dan menjadi suri teladan umat manusia. Tak ada manusia yang paling baik selain Nabi Muhammad SAW. Patutlah kita bersyukur dapat merasakan ajaran yang beliau berikan, yaitu Islam. Wafatnya beliau merupakan merupakan kesedihan yang mendalam bagi seluruh umat islam dimuka bumi.

Aku bersyukur terlahir dalam keadaan islam. Tetapi, apakah aku benar – benar mengenal Islam yang diajarkan olah beliau ? apakah islamku sekarang benar –benar seperti yang dicontohkan Rosulullah ? hari ini aku berfikir, bagaimana aku bisa mengaku Islam jika aku tak mengenal islam. Bagiku islam merupakan sebuah takdir yang dibawa sejak lahir dari orangtua kita yang juga Islam. Sehingga tak pernah kita ingin mengenal Islam begitu kuatnya. Tetapi bedakan dengan para mualaf yang penasaran, mencari, dan bertemu islam setalah mengenal islam dengan begitu dalam dan mendapat hidayah dari-Nya. Semua itu akan terasa lain dihati. Terkadang aku iri pada orang –orang yang begitu mengenal islam. Bisa merasakan bagaimana indahnya islam dan kasih sayang Sang Pencipta.

Bagaimana bisa kita tak mengenal islam ? padahal Allah telah menurunkan wahyu-Nya melalui Nabi Muhammad SAW. Bagaimana bisa kita tersesat padahal kita telah diberi Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup ? karena kita tak pernah benar – benar memahami Al-Qur’an. Sekarang Al-Qur’an hanya sebatas kitab yang kita baca tetapi, apakah pernah kita memahami apa yang kita baca ? kita mengkhatamkan begitu banyak buku – buku dan mempelajari begitu banyak ilmu pengetahuan, tetapi berapa banyakkah kita mengkhatamkan dan mempelajari Al-Qur’an ?

Hari ini, aku merenungkan semuanya di tengah perjalanan hidup ini. aku selalu mencari jalan kebenaran. Dan jalan yang benar itu hanyalah milik Allah semata. Tujuan hidup ini adalah kembali kepada Allah. Kita diciptakan oleh-Nya dan kembali juga kepada-Nya.

Senin, 21 Maret 2011

Negeri Para Bedebah

Ada satu negeri yang dihuni para bedebah

Lautnya pernah dibelah tongkat Musa

Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah

Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?

Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah

Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah

Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah

Orang baik dan bersih dianggap salah

Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan

Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah

Karena hanya penguasa yang boleh marah

Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah

Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah

Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum

Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah

Usirlah mereka dengan revolusi

Bila tak mampu dengan revolusi,

Dengan demonstrasi

Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi

Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan

Karya:Adhie Massardi