Jumat, 02 November 2012
Merantau
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah - lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air menjadi keruh karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang
Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran
Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa
jika di dalam hujan
-Imam Syafii
sedikit kata mutiara dari seorang imam yang membuatku lebih bersemangat. walaupun dalam wamtu dekat tak bisa merantau, kerahkan segala usaha untuk mendapatkan manisnya buah keberhasilan . Selamat berjuang. Selamat berpetualang. :)
Kamis, 19 April 2012
Hanya UntukMu
Di awal kelahiranku
Kuucapkan kalimat itu
Kuucapkan janji suci itu
Kuberjanji sampai mati kepadaNya
Dengan mengucap dua kalimat syahadat
Di alam bawah sadarku maupun di bawah sadarku
Di awal langkah kehidupanku
Ku berniat hanya untukNya
Setiap langkah kaki
Berharap selalu ada di jalan yang lurus
Jalan menuju Tuhan Semesta Alam
Tak lupa pula
Mengharap ridho dariNya
Di setiap waktu
Di setiap sujudku
Hanya sujud kepada diriMu
Sang Pemberi Kehidupan dalam jiwaku
Kuserahkan diriku
Kurendahkan diriku
dihadapanMu Yang Maha Agung
Di setiap dzikir – dzikirku
Aku ikut memuji kebesaranMu
Bersama angin yang berhembus
Bersama matahari yang terbit
Bersama rumput – rumput yang bergoyang
Bersama dinginnya udara
Aku mohon ampun padaMu
Atas segala dosa yang tak terkira
Yang aku lakukan setiap detiknya
Aku bersyukur padaMu
Atas segala nikmat yang melimpah
Yang kau berikan padaku
Tak terbatas, tak terhitung jumlahnya
Dan akan nikmat yang paling indah ini
Yang menjadi penyejuk keringnya jiwa
Obat sakitnya hati
Penjernih keruhnya pikiran
Penunjuk jalan kebenaran
Alhamdullilah kuucapkan kepadaMu
Ya Allah,,,
Atas nikmat islamku ini
Atas nikmat imanku ini
Yang terkadang masih terombang – ambing
Oleh ombak dilautan dunia yang kejam
Ku berjanji padaMu, Ya Allah
Akan selalu kujaga keyakinan ini
Akan selalu kutiti jalan kebenaran ini
Hanya untuk kembali lagi kepadaMu
Tempat segalanya akan kembali
Minggu, 04 Maret 2012
Deja Vu
Jumat, 02 Maret 2012
Ditengah Keterbatasan
Tuhan,
Kau memberikan kami kehidupan
Kami yang menjalani segalanya
Tetapi diriMu lah yang menentukan segalanya
Untuk apa sebenarnya kehidupan kami ini
Untuk apa sebenarnya segala cobaan ini
Yang tak henti – hentinya mendera kepada para hambaMu
Yang tak berdaya ditengah keterbatasan yang dimiliki
Tuhan,
Aku teriris melihat mereka, sekaligus kagum dalam satu waktu
Melihat mereka yang terjebak keterpurukan ekonomi
Yang mencekik di tengah kehidupan yang telah begitu terhimpit
Tetapi mereka tetap berani bermimpi ditengah keterbatasan ekonomi
Mimpi mereka menjadi sebuah semangat tersendiri
Untuk keluar dari belenggu yang terus membayangi
Untuk mengubah takdir dari bawah menuju ke atas
Tuhan,
Aku ikut menderita merasakan sakitnya
Mereka yang harus kau beri penyakit
Yang bersarang dalam tubuh yang tak pernah mereka inginkan
Harus rela menerima rasa perih setiap saat
Tak pernah bisa membagi rasa sakit mereka pada sekitarnya
Dan selalu tabah merasakannya
Tetapi, semangat mereka sungguh luar biasa
Ditengah keterbatasan fisik
Malah merekalah yang lebih mengerti bagaimana makna hidup yang sebenarnya
Merekalah yang tau bagaimana memanfaatkan hidup dengan sebaik – baiknya
Karena mereka tau hidup mereka tak sebentar
Dan tak ada lagi yang lebih penting daripada hidup mereka
Tuhan,
Jika aku melihat, membaca, mempelajari segala problematika hidup
Di dunia ini
Aku bersyukur kepadaMu
Memberiku kehidupan yang lebih dari layak
Memberikan tubuh yang sehat dengan sedikit keterbatasan
Tetapi,aku tau Tuhan
Tak ada manusia yang tak memiliki keterbatasan
Tak ada manusia yang selamanya menderita dan selamanya bahagia
Hidup ini bagaikan pegunungan yang harus didaki
Jika kami daki terus menerus, puncaknya akan kami raih
Tetapi terkadang kami lupa setelah puncak masih ada lembah
Yang dapat menjatuhkan kapanpun kami lengah
Aku takjub pada mereka, Ya Allah
Dengan semangat mereka
Dengan kesabaran, ketabahan, dan kegigihan mereka
Ditengah keterbatasan
Diriku saja yang tidak ditengah keterbatasan seperti mereka
Masih tak bisa memanfaatkan kehidupan ini
Jadi, Ya Allah
Berilah aku segala sesuatu yang baik bagiku
Berilah aku jalan untuk mimpi – mimpiku
Dan berilah aku petunjuk untuk menuju kehadapanMu
Ditengah keterbatasan yang tak terelakkan ini
Senin, 20 Februari 2012
(Resensi Buku) 99 Cahaya di Langit Eropa
jika kau membaca buku ini, kau akan merasa dibawa ke masa lalu, dibawa kemasa dimana Islam bersinar terang ditengah - tengah masa kegelapan Eropa. seperti lahirnya Rosulullah yang membawa cahaya terang ditengah kaum Jahiliyah, seperti itulah Islam dimasa lalu yang menerangi Eropa. begitu banyak kenangan yang tersimpan di benua tersebut tanpa kita umat Islam mengetahuinya. begitu hebatnya peradaban Islam yang memepengaruhi peradaban - peradaban kuno yang ada di Eropa. Rabu, 15 Februari 2012
Memadukan Ilmu dan Amal
Ibnu Bathah menuturkan sebuah riwayat dari Masruq, dari Abdullah yang berkata, “Sesungguhnya kalian berada pada suatu zaman yang di dalamnya beramal adalah lebih baik daripada berpendapat. Kelak akan datang suatu zaman yang di dalamnya berpendapat lebih baik daripada beramal.” (Ibn Baththah, Al-Ibanah al-Kubra, I/207).
Ath-Thabrani juga meriwayatkan sebuah hadis dari penuturan al-’Ala bin al-Harits, dari Hizam bin Hakim bin Hizam, dari ayahnya, dari Baginda Nabi Muhammad saw. yang bersabda, “Kalian benar-benar berada pada suatu zaman yang di dalamnya banyak sekali fuqaha dan sedikit sekali para ahli pidato…Pada zaman ini amal adalah lebih baik daripada ilmu. Kelak akan datang suatu zaman yang di dalamnya sedikit sekali fuqaha dan banyak para ahli pidato…Pada zaman ini ilmu lebih baik daripada amal.” (Ath-Thabrani, Al-Mu’jam al-Kabir III/236)
Dari kedua hadis di atas setidaknya dapat dipahami bahwa pada zaman yang pertama (yakni generasi Sahabat Nabi saw.) kebanyakan orang memahami Islam secara mendalam. Karena itu, yang dibutuhkan saat itu adalah mengamalkan apa yang telah dipahami. Sebaliknya, pada zaman yang kedua-kemungkinan adalah zaman kita hari ini-saat orang-orang yang memahami Islam secara mendalam sangat sedikit maka banyak orang yang beramal tanpa ilmu. Karena itu, pada zaman kini memahami dan mendalami Islam-yang kemudian diamalkan-tentu lebih penting daripada beramal tanpa didasarkan pada ilmu.
Kesimpulan ini setidaknya sesuai dengan makna riwayat yang diungkapkan oleh Imam Malik saat menuturkan hadis penuturan Yahya bin Said yang berkata bahwa Abdullah bin Mas’ud pernah berkata kepada seseorang, “Sesungguhnya engkau berada pada suatu zaman yang di dalamnya banyak para fuqaha dan sedikit para pembaca al-Quran yang menjaga hukum-hukumnya dan tidak terlalu fokus pada huruf-hurufnya…Kelak akan datang kepada manusia suatu zaman yang di dalamnya sedikit para fuqaha dan banyak para pembaca al-Qurannya yang menjaga huruf-hurufnya tetapi mengabaikan hukum-hukumnya.” (Imam Malik, Al-Muwaththa’, II/44).
Dari hadis ini setidaknya dapat dipahami tiga perkara. Pertama: Ibn Mas’ud tidak bermaksud menyatakan orang-orang yang membaca al-Quran pada zamannya sedikit. Namun, yang beliau maksud bahwa orang-orang yang membaca al-Quran pada zamannya-yang perhatiannya hanya pada bacaan tanpa memperhatikan hukum-hukumnya-amatlah sedikit. Dengan kata lain, pada zaman Sahabat Nabi saw. orang-orang biasa membaca al-Quran sekaligus memahami dan mengamalkan hukum-hukumnya, dan tidak memokuskan perhatiannya pada huruf-hurufnya, karena memang al-Quran adalah bahasa mereka. Sebaliknya, pada zaman kini-zaman yang mungkin diisyaratkan dalam hadis ini oleh Ibn Mas’ud-banyak orang membaca al-Quran hanya fokus pada bacaan (huruf-huruf)-nya saja, tetapi tidak memahami apalagi mengamalkan hukum-hukumnya.
Kedua: Akan datang suatu zaman-yang tentu berbeda dengan zaman Ibn Mas’ud alias zaman Sahabat Nabi saw.-yang di dalamnya sedikit para fuqaha (ahli fikih). Maksudnya, pada zaman itu-boleh jadi zaman kita hari ini-orang-orang yang memahami Islam secara mendalam amatlah sedikit. Kebanyakan mereka adalah yang bisa dan biasa membaca al-Quran tetapi tidak memahami isinya secara mendalam. Tentu hadis ini tidak sedang mencela para pembaca dan penghapal al-Quran. Yang dicela adalah sedikitnya para fuqaha dari kalangan mereka karena tujuan akhir mereka sebatas membaca dan menghapal al-Quran, bukan memahami isinya apalagi mengamalkan dan menerapkan hukum-hukumnya.
Ketiga: Akan datang suatu zaman yang di dalamnya huruf-huruf al-Quran benar-benar dijaga, tetapi hukum-hukumnya ditelantarkan. Maknanya, para pemelihara mushaf al-Quran jumlahnya banyak. Namun, kebanyakan mereka tidak memahami isi al-Quran itu. Tidak pula pada saat itu-yang sesungguhnya telah terjadi pada zaman kini-manusia dipimpin oleh imam atau para penguasa yang menerapkan al-Quran di tengah-tengah mereka. Akibatnya, hukum-hukum al-Quran ditelantarkan. Ini jelas bertentangan dengan zaman Sahabat Nabi saw. saat manusia dipimpin oleh para pemimpin yang berhukum dengan al-Quran dan menerapkan al-Quran kepada mereka (Lihat: Al-Muntaqa Syarh al-Muwaththa’, I/429).
Alhasil, pesan inti dari hadis di atas sesungguhnya adalah: Pertama, dorongan kepada setiap Muslim untuk membaca dan memahami al-Quran atau mendalami Islam. Kedua, mengamalkan isi al-Quran termasuk berusaha terus mendorong para penguasa untuk menerapkan hukum-hukumnya (syariah Islam) di tengah-tengah masyarakat.
Inilah wujud nyata dari sikap memadukan ilmu dan amal. Sudahkah kita melakukannya? WalLahu a’lam bi ash-shawab
Detik - Detik Saat Nabi Muhammad Lahir
Pada malam itu, setan-setan dilarang naik ke langit, Padahal sebelumnya, mereka dapat naik-turun langit untuk mendengarkan percakapan-percakapan yang dilakukan para malaikat. Ketika mereka dilarang naik ke langit, maka mereka berkumpul pada Iblis alaihila’nah, Mereka pun berkata, “dahulu kami bisa naik ke langit, tetapi hari ini kami telah dilarang untuk naik”.
Iblis menjawab, “Menyebarlah kalian dimuka bumi dari barat sampai ke timur, dan perhatikan dengan seksama apa sebenarnya yang telah terjadi !”
Mereka lalu menyebar. Akhirnya setelah mengelilingi timur dan barat, sampailah mereka ke kota Mekkah. Disana tampak oleh mereka seorang bayi mulia sedang dikelilingi para malaikat dan memancarkan cahaya dari dirinya hingga mencuat ke langit, sedangkan malaikat-malaikat itu saling memberi ucapan selamat satu dengan yang lainnya kepadanya.
Kemudian kembalilah setan-setan itu menghadap kepada iblis, sambil menceritakan semua apa yang telah mereka saksikan itu. Maka iblis pun berteriak dengan suara yang sangat dahsyat kerasnya, seraya berkata,“Aaaaaaarrggghhhh !!!!!!!!!!, telah keluar “Ayatul‘alam” dan rahmat bagi bani Adam, karena itulah kalian telah dicegah untuk naik ke langit, tempat pandangannya dan pandangan ummatnya!!!!”.
Fathul Bari mengabadikan, pada malam hari itu juga, kerajaan Romawi dikejutkan dengan runtuhnya gereja-gereja yang mereka dirikan. Di Persia, Kaisar Kisra dikejutkan dengan peristiwa retaknya mahligai kekaisaran serta runtuhnya 14 buah tiang seri kerjaan. Para majusi pun tak kalah heran. Api dalam kuil Majusi yang telah menyala selama 1000 tahun itu padam.
Penduduka Mekkah pun tak kalah sontak dengan apa yang terjadi di depan Ka’bah. Mereka mendengar suara tanpa rupa dari tiap-tiap sudut Ka’bah. Dari sudut pertama terdengar ucapan, “Telah datang kebenaran (Islam), dan kebathilan (kekufuran) tidak akan kembali lagi”.
Dari sudut kedua terdengar ucapan, “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”.
Dari sudut ketiga terdengar ucapan : “Telah datang kepadamu cahaya (Nabi) dari Allah dan kitab (Al-Qur’an) yang menerangkan”.
Dan dari sudut keempat terdengar ucapan, “Hai Nabi, sesungguhnya kami mengutusmu untuk menjadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan dan untuk menjadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk menjadi cahaya yang menerangi”.
Kita mengetahui, kelak bayi ini akan tumbuh menjadi anak yang jujur dan menjadi pemuda yang amanah. Ia akan menjadi seorang lelaki yang akan mengubah wajah sejarah. Lelaki itu Muhammad. Namanya terpuji di langit dan di bumi.
source : http://irvanrahman.wordpress.com
Kamis, 09 Februari 2012
Renungan di Tengah Jalan
Begitu banyak hal yang tak pernah terpikirkan sedikitpun oleh kita. Ada begitu banyak waktu yang kita buang sia – sia. Ada hal yang lebih penting, dan lebih penting dari semua yang ada didunia ini. dan hanya sebagian kecil dari manusia yang mungkin telah menuju hal terpenting tersebut, jalan pulang dari semua masalah pelik di dunia ini, jalan lurus yang menuju sebuah kebenaran yang hakiki, dan sebuah pintu menuju kebahagian yang kekal.
Mungkin tak pernah sedalam ini aku memikirkan tujuan hidup manusia di muka bumi. Karena selama iniaku hanya menginginkan sukses, hidup dengan berkecukupan, menjadi orang yang berguna, membahagiakan orang tua, dan semua hal yang berbau duniawi. Tetapi,apakah apakah semua itu tujuan sebenarnya aku hidup ? apakah hanya kesuksesan yang ingin aku raih ? tidakkah ada tujuan yang lebih penting dari semua itu dalam hidup didunia ini ?
Hari ini, pikiranku terbuka oleh hal – hal yang begitu t ak pernah aku memikirkannya begitu dalam seperti saat ini. tujuan hidupku, tujuan setiap manusia dibumi. Setiap manusia telah Allah ciptakan dari sebuah ruh yang ditupkan sebuah kehidupan didalamnya. Saat kita terlahir kedunia ini, itu adalah sebuah takdir. Kita meninggalkan Sang Pencipta dan lahir kedunia ini dengan tanggisan kesedihan karena harus berpisah dan hidup kedunia yang kejam. Dan saat itulah semua kehidupan berawal.
Ribuan tahun yang lalu, Allah menciptakan manusi paling mulia dimuka bumi ini, Nabi Muhammad SAW. Beliaulah yang membawa cahaya terang kebumi dan menjadi suri teladan umat manusia. Tak ada manusia yang paling baik selain Nabi Muhammad SAW. Patutlah kita bersyukur dapat merasakan ajaran yang beliau berikan, yaitu Islam. Wafatnya beliau merupakan merupakan kesedihan yang mendalam bagi seluruh umat islam dimuka bumi.
Aku bersyukur terlahir dalam keadaan islam. Tetapi, apakah aku benar – benar mengenal Islam yang diajarkan olah beliau ? apakah islamku sekarang benar –benar seperti yang dicontohkan Rosulullah ? hari ini aku berfikir, bagaimana aku bisa mengaku Islam jika aku tak mengenal islam. Bagiku islam merupakan sebuah takdir yang dibawa sejak lahir dari orangtua kita yang juga Islam. Sehingga tak pernah kita ingin mengenal Islam begitu kuatnya. Tetapi bedakan dengan para mualaf yang penasaran, mencari, dan bertemu islam setalah mengenal islam dengan begitu dalam dan mendapat hidayah dari-Nya. Semua itu akan terasa lain dihati. Terkadang aku iri pada orang –orang yang begitu mengenal islam. Bisa merasakan bagaimana indahnya islam dan kasih sayang Sang Pencipta.
Bagaimana bisa kita tak mengenal islam ? padahal Allah telah menurunkan wahyu-Nya melalui Nabi Muhammad SAW. Bagaimana bisa kita tersesat padahal kita telah diberi Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup ? karena kita tak pernah benar – benar memahami Al-Qur’an. Sekarang Al-Qur’an hanya sebatas kitab yang kita baca tetapi, apakah pernah kita memahami apa yang kita baca ? kita mengkhatamkan begitu banyak buku – buku dan mempelajari begitu banyak ilmu pengetahuan, tetapi berapa banyakkah kita mengkhatamkan dan mempelajari Al-Qur’an ?
Hari ini, aku merenungkan semuanya di tengah perjalanan hidup ini. aku selalu mencari jalan kebenaran. Dan jalan yang benar itu hanyalah milik Allah semata. Tujuan hidup ini adalah kembali kepada Allah. Kita diciptakan oleh-Nya dan kembali juga kepada-Nya.
Senin, 21 Maret 2011
Negeri Para Bedebah
Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala
Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah
Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah
Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya
Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan
Karya:Adhie Massardi
Jumat, 02 November 2012
Merantau
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah - lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air menjadi keruh karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang
Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran
Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa
jika di dalam hujan
-Imam Syafii
sedikit kata mutiara dari seorang imam yang membuatku lebih bersemangat. walaupun dalam wamtu dekat tak bisa merantau, kerahkan segala usaha untuk mendapatkan manisnya buah keberhasilan . Selamat berjuang. Selamat berpetualang. :)
Kamis, 19 April 2012
Hanya UntukMu
Di awal kelahiranku
Kuucapkan kalimat itu
Kuucapkan janji suci itu
Kuberjanji sampai mati kepadaNya
Dengan mengucap dua kalimat syahadat
Di alam bawah sadarku maupun di bawah sadarku
Di awal langkah kehidupanku
Ku berniat hanya untukNya
Setiap langkah kaki
Berharap selalu ada di jalan yang lurus
Jalan menuju Tuhan Semesta Alam
Tak lupa pula
Mengharap ridho dariNya
Di setiap waktu
Di setiap sujudku
Hanya sujud kepada diriMu
Sang Pemberi Kehidupan dalam jiwaku
Kuserahkan diriku
Kurendahkan diriku
dihadapanMu Yang Maha Agung
Di setiap dzikir – dzikirku
Aku ikut memuji kebesaranMu
Bersama angin yang berhembus
Bersama matahari yang terbit
Bersama rumput – rumput yang bergoyang
Bersama dinginnya udara
Aku mohon ampun padaMu
Atas segala dosa yang tak terkira
Yang aku lakukan setiap detiknya
Aku bersyukur padaMu
Atas segala nikmat yang melimpah
Yang kau berikan padaku
Tak terbatas, tak terhitung jumlahnya
Dan akan nikmat yang paling indah ini
Yang menjadi penyejuk keringnya jiwa
Obat sakitnya hati
Penjernih keruhnya pikiran
Penunjuk jalan kebenaran
Alhamdullilah kuucapkan kepadaMu
Ya Allah,,,
Atas nikmat islamku ini
Atas nikmat imanku ini
Yang terkadang masih terombang – ambing
Oleh ombak dilautan dunia yang kejam
Ku berjanji padaMu, Ya Allah
Akan selalu kujaga keyakinan ini
Akan selalu kutiti jalan kebenaran ini
Hanya untuk kembali lagi kepadaMu
Tempat segalanya akan kembali
Minggu, 04 Maret 2012
Deja Vu
Jumat, 02 Maret 2012
Ditengah Keterbatasan
Tuhan,
Kau memberikan kami kehidupan
Kami yang menjalani segalanya
Tetapi diriMu lah yang menentukan segalanya
Untuk apa sebenarnya kehidupan kami ini
Untuk apa sebenarnya segala cobaan ini
Yang tak henti – hentinya mendera kepada para hambaMu
Yang tak berdaya ditengah keterbatasan yang dimiliki
Tuhan,
Aku teriris melihat mereka, sekaligus kagum dalam satu waktu
Melihat mereka yang terjebak keterpurukan ekonomi
Yang mencekik di tengah kehidupan yang telah begitu terhimpit
Tetapi mereka tetap berani bermimpi ditengah keterbatasan ekonomi
Mimpi mereka menjadi sebuah semangat tersendiri
Untuk keluar dari belenggu yang terus membayangi
Untuk mengubah takdir dari bawah menuju ke atas
Tuhan,
Aku ikut menderita merasakan sakitnya
Mereka yang harus kau beri penyakit
Yang bersarang dalam tubuh yang tak pernah mereka inginkan
Harus rela menerima rasa perih setiap saat
Tak pernah bisa membagi rasa sakit mereka pada sekitarnya
Dan selalu tabah merasakannya
Tetapi, semangat mereka sungguh luar biasa
Ditengah keterbatasan fisik
Malah merekalah yang lebih mengerti bagaimana makna hidup yang sebenarnya
Merekalah yang tau bagaimana memanfaatkan hidup dengan sebaik – baiknya
Karena mereka tau hidup mereka tak sebentar
Dan tak ada lagi yang lebih penting daripada hidup mereka
Tuhan,
Jika aku melihat, membaca, mempelajari segala problematika hidup
Di dunia ini
Aku bersyukur kepadaMu
Memberiku kehidupan yang lebih dari layak
Memberikan tubuh yang sehat dengan sedikit keterbatasan
Tetapi,aku tau Tuhan
Tak ada manusia yang tak memiliki keterbatasan
Tak ada manusia yang selamanya menderita dan selamanya bahagia
Hidup ini bagaikan pegunungan yang harus didaki
Jika kami daki terus menerus, puncaknya akan kami raih
Tetapi terkadang kami lupa setelah puncak masih ada lembah
Yang dapat menjatuhkan kapanpun kami lengah
Aku takjub pada mereka, Ya Allah
Dengan semangat mereka
Dengan kesabaran, ketabahan, dan kegigihan mereka
Ditengah keterbatasan
Diriku saja yang tidak ditengah keterbatasan seperti mereka
Masih tak bisa memanfaatkan kehidupan ini
Jadi, Ya Allah
Berilah aku segala sesuatu yang baik bagiku
Berilah aku jalan untuk mimpi – mimpiku
Dan berilah aku petunjuk untuk menuju kehadapanMu
Ditengah keterbatasan yang tak terelakkan ini
Senin, 20 Februari 2012
(Resensi Buku) 99 Cahaya di Langit Eropa
jika kau membaca buku ini, kau akan merasa dibawa ke masa lalu, dibawa kemasa dimana Islam bersinar terang ditengah - tengah masa kegelapan Eropa. seperti lahirnya Rosulullah yang membawa cahaya terang ditengah kaum Jahiliyah, seperti itulah Islam dimasa lalu yang menerangi Eropa. begitu banyak kenangan yang tersimpan di benua tersebut tanpa kita umat Islam mengetahuinya. begitu hebatnya peradaban Islam yang memepengaruhi peradaban - peradaban kuno yang ada di Eropa. Rabu, 15 Februari 2012
Memadukan Ilmu dan Amal
Ibnu Bathah menuturkan sebuah riwayat dari Masruq, dari Abdullah yang berkata, “Sesungguhnya kalian berada pada suatu zaman yang di dalamnya beramal adalah lebih baik daripada berpendapat. Kelak akan datang suatu zaman yang di dalamnya berpendapat lebih baik daripada beramal.” (Ibn Baththah, Al-Ibanah al-Kubra, I/207).
Ath-Thabrani juga meriwayatkan sebuah hadis dari penuturan al-’Ala bin al-Harits, dari Hizam bin Hakim bin Hizam, dari ayahnya, dari Baginda Nabi Muhammad saw. yang bersabda, “Kalian benar-benar berada pada suatu zaman yang di dalamnya banyak sekali fuqaha dan sedikit sekali para ahli pidato…Pada zaman ini amal adalah lebih baik daripada ilmu. Kelak akan datang suatu zaman yang di dalamnya sedikit sekali fuqaha dan banyak para ahli pidato…Pada zaman ini ilmu lebih baik daripada amal.” (Ath-Thabrani, Al-Mu’jam al-Kabir III/236)
Dari kedua hadis di atas setidaknya dapat dipahami bahwa pada zaman yang pertama (yakni generasi Sahabat Nabi saw.) kebanyakan orang memahami Islam secara mendalam. Karena itu, yang dibutuhkan saat itu adalah mengamalkan apa yang telah dipahami. Sebaliknya, pada zaman yang kedua-kemungkinan adalah zaman kita hari ini-saat orang-orang yang memahami Islam secara mendalam sangat sedikit maka banyak orang yang beramal tanpa ilmu. Karena itu, pada zaman kini memahami dan mendalami Islam-yang kemudian diamalkan-tentu lebih penting daripada beramal tanpa didasarkan pada ilmu.
Kesimpulan ini setidaknya sesuai dengan makna riwayat yang diungkapkan oleh Imam Malik saat menuturkan hadis penuturan Yahya bin Said yang berkata bahwa Abdullah bin Mas’ud pernah berkata kepada seseorang, “Sesungguhnya engkau berada pada suatu zaman yang di dalamnya banyak para fuqaha dan sedikit para pembaca al-Quran yang menjaga hukum-hukumnya dan tidak terlalu fokus pada huruf-hurufnya…Kelak akan datang kepada manusia suatu zaman yang di dalamnya sedikit para fuqaha dan banyak para pembaca al-Qurannya yang menjaga huruf-hurufnya tetapi mengabaikan hukum-hukumnya.” (Imam Malik, Al-Muwaththa’, II/44).
Dari hadis ini setidaknya dapat dipahami tiga perkara. Pertama: Ibn Mas’ud tidak bermaksud menyatakan orang-orang yang membaca al-Quran pada zamannya sedikit. Namun, yang beliau maksud bahwa orang-orang yang membaca al-Quran pada zamannya-yang perhatiannya hanya pada bacaan tanpa memperhatikan hukum-hukumnya-amatlah sedikit. Dengan kata lain, pada zaman Sahabat Nabi saw. orang-orang biasa membaca al-Quran sekaligus memahami dan mengamalkan hukum-hukumnya, dan tidak memokuskan perhatiannya pada huruf-hurufnya, karena memang al-Quran adalah bahasa mereka. Sebaliknya, pada zaman kini-zaman yang mungkin diisyaratkan dalam hadis ini oleh Ibn Mas’ud-banyak orang membaca al-Quran hanya fokus pada bacaan (huruf-huruf)-nya saja, tetapi tidak memahami apalagi mengamalkan hukum-hukumnya.
Kedua: Akan datang suatu zaman-yang tentu berbeda dengan zaman Ibn Mas’ud alias zaman Sahabat Nabi saw.-yang di dalamnya sedikit para fuqaha (ahli fikih). Maksudnya, pada zaman itu-boleh jadi zaman kita hari ini-orang-orang yang memahami Islam secara mendalam amatlah sedikit. Kebanyakan mereka adalah yang bisa dan biasa membaca al-Quran tetapi tidak memahami isinya secara mendalam. Tentu hadis ini tidak sedang mencela para pembaca dan penghapal al-Quran. Yang dicela adalah sedikitnya para fuqaha dari kalangan mereka karena tujuan akhir mereka sebatas membaca dan menghapal al-Quran, bukan memahami isinya apalagi mengamalkan dan menerapkan hukum-hukumnya.
Ketiga: Akan datang suatu zaman yang di dalamnya huruf-huruf al-Quran benar-benar dijaga, tetapi hukum-hukumnya ditelantarkan. Maknanya, para pemelihara mushaf al-Quran jumlahnya banyak. Namun, kebanyakan mereka tidak memahami isi al-Quran itu. Tidak pula pada saat itu-yang sesungguhnya telah terjadi pada zaman kini-manusia dipimpin oleh imam atau para penguasa yang menerapkan al-Quran di tengah-tengah mereka. Akibatnya, hukum-hukum al-Quran ditelantarkan. Ini jelas bertentangan dengan zaman Sahabat Nabi saw. saat manusia dipimpin oleh para pemimpin yang berhukum dengan al-Quran dan menerapkan al-Quran kepada mereka (Lihat: Al-Muntaqa Syarh al-Muwaththa’, I/429).
Alhasil, pesan inti dari hadis di atas sesungguhnya adalah: Pertama, dorongan kepada setiap Muslim untuk membaca dan memahami al-Quran atau mendalami Islam. Kedua, mengamalkan isi al-Quran termasuk berusaha terus mendorong para penguasa untuk menerapkan hukum-hukumnya (syariah Islam) di tengah-tengah masyarakat.
Inilah wujud nyata dari sikap memadukan ilmu dan amal. Sudahkah kita melakukannya? WalLahu a’lam bi ash-shawab
Detik - Detik Saat Nabi Muhammad Lahir
Pada malam itu, setan-setan dilarang naik ke langit, Padahal sebelumnya, mereka dapat naik-turun langit untuk mendengarkan percakapan-percakapan yang dilakukan para malaikat. Ketika mereka dilarang naik ke langit, maka mereka berkumpul pada Iblis alaihila’nah, Mereka pun berkata, “dahulu kami bisa naik ke langit, tetapi hari ini kami telah dilarang untuk naik”.
Iblis menjawab, “Menyebarlah kalian dimuka bumi dari barat sampai ke timur, dan perhatikan dengan seksama apa sebenarnya yang telah terjadi !”
Mereka lalu menyebar. Akhirnya setelah mengelilingi timur dan barat, sampailah mereka ke kota Mekkah. Disana tampak oleh mereka seorang bayi mulia sedang dikelilingi para malaikat dan memancarkan cahaya dari dirinya hingga mencuat ke langit, sedangkan malaikat-malaikat itu saling memberi ucapan selamat satu dengan yang lainnya kepadanya.
Kemudian kembalilah setan-setan itu menghadap kepada iblis, sambil menceritakan semua apa yang telah mereka saksikan itu. Maka iblis pun berteriak dengan suara yang sangat dahsyat kerasnya, seraya berkata,“Aaaaaaarrggghhhh !!!!!!!!!!, telah keluar “Ayatul‘alam” dan rahmat bagi bani Adam, karena itulah kalian telah dicegah untuk naik ke langit, tempat pandangannya dan pandangan ummatnya!!!!”.
Fathul Bari mengabadikan, pada malam hari itu juga, kerajaan Romawi dikejutkan dengan runtuhnya gereja-gereja yang mereka dirikan. Di Persia, Kaisar Kisra dikejutkan dengan peristiwa retaknya mahligai kekaisaran serta runtuhnya 14 buah tiang seri kerjaan. Para majusi pun tak kalah heran. Api dalam kuil Majusi yang telah menyala selama 1000 tahun itu padam.
Penduduka Mekkah pun tak kalah sontak dengan apa yang terjadi di depan Ka’bah. Mereka mendengar suara tanpa rupa dari tiap-tiap sudut Ka’bah. Dari sudut pertama terdengar ucapan, “Telah datang kebenaran (Islam), dan kebathilan (kekufuran) tidak akan kembali lagi”.
Dari sudut kedua terdengar ucapan, “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”.
Dari sudut ketiga terdengar ucapan : “Telah datang kepadamu cahaya (Nabi) dari Allah dan kitab (Al-Qur’an) yang menerangkan”.
Dan dari sudut keempat terdengar ucapan, “Hai Nabi, sesungguhnya kami mengutusmu untuk menjadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan dan untuk menjadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk menjadi cahaya yang menerangi”.
Kita mengetahui, kelak bayi ini akan tumbuh menjadi anak yang jujur dan menjadi pemuda yang amanah. Ia akan menjadi seorang lelaki yang akan mengubah wajah sejarah. Lelaki itu Muhammad. Namanya terpuji di langit dan di bumi.
source : http://irvanrahman.wordpress.com
Kamis, 09 Februari 2012
Renungan di Tengah Jalan
Begitu banyak hal yang tak pernah terpikirkan sedikitpun oleh kita. Ada begitu banyak waktu yang kita buang sia – sia. Ada hal yang lebih penting, dan lebih penting dari semua yang ada didunia ini. dan hanya sebagian kecil dari manusia yang mungkin telah menuju hal terpenting tersebut, jalan pulang dari semua masalah pelik di dunia ini, jalan lurus yang menuju sebuah kebenaran yang hakiki, dan sebuah pintu menuju kebahagian yang kekal.
Mungkin tak pernah sedalam ini aku memikirkan tujuan hidup manusia di muka bumi. Karena selama iniaku hanya menginginkan sukses, hidup dengan berkecukupan, menjadi orang yang berguna, membahagiakan orang tua, dan semua hal yang berbau duniawi. Tetapi,apakah apakah semua itu tujuan sebenarnya aku hidup ? apakah hanya kesuksesan yang ingin aku raih ? tidakkah ada tujuan yang lebih penting dari semua itu dalam hidup didunia ini ?
Hari ini, pikiranku terbuka oleh hal – hal yang begitu t ak pernah aku memikirkannya begitu dalam seperti saat ini. tujuan hidupku, tujuan setiap manusia dibumi. Setiap manusia telah Allah ciptakan dari sebuah ruh yang ditupkan sebuah kehidupan didalamnya. Saat kita terlahir kedunia ini, itu adalah sebuah takdir. Kita meninggalkan Sang Pencipta dan lahir kedunia ini dengan tanggisan kesedihan karena harus berpisah dan hidup kedunia yang kejam. Dan saat itulah semua kehidupan berawal.
Ribuan tahun yang lalu, Allah menciptakan manusi paling mulia dimuka bumi ini, Nabi Muhammad SAW. Beliaulah yang membawa cahaya terang kebumi dan menjadi suri teladan umat manusia. Tak ada manusia yang paling baik selain Nabi Muhammad SAW. Patutlah kita bersyukur dapat merasakan ajaran yang beliau berikan, yaitu Islam. Wafatnya beliau merupakan merupakan kesedihan yang mendalam bagi seluruh umat islam dimuka bumi.
Aku bersyukur terlahir dalam keadaan islam. Tetapi, apakah aku benar – benar mengenal Islam yang diajarkan olah beliau ? apakah islamku sekarang benar –benar seperti yang dicontohkan Rosulullah ? hari ini aku berfikir, bagaimana aku bisa mengaku Islam jika aku tak mengenal islam. Bagiku islam merupakan sebuah takdir yang dibawa sejak lahir dari orangtua kita yang juga Islam. Sehingga tak pernah kita ingin mengenal Islam begitu kuatnya. Tetapi bedakan dengan para mualaf yang penasaran, mencari, dan bertemu islam setalah mengenal islam dengan begitu dalam dan mendapat hidayah dari-Nya. Semua itu akan terasa lain dihati. Terkadang aku iri pada orang –orang yang begitu mengenal islam. Bisa merasakan bagaimana indahnya islam dan kasih sayang Sang Pencipta.
Bagaimana bisa kita tak mengenal islam ? padahal Allah telah menurunkan wahyu-Nya melalui Nabi Muhammad SAW. Bagaimana bisa kita tersesat padahal kita telah diberi Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup ? karena kita tak pernah benar – benar memahami Al-Qur’an. Sekarang Al-Qur’an hanya sebatas kitab yang kita baca tetapi, apakah pernah kita memahami apa yang kita baca ? kita mengkhatamkan begitu banyak buku – buku dan mempelajari begitu banyak ilmu pengetahuan, tetapi berapa banyakkah kita mengkhatamkan dan mempelajari Al-Qur’an ?
Hari ini, aku merenungkan semuanya di tengah perjalanan hidup ini. aku selalu mencari jalan kebenaran. Dan jalan yang benar itu hanyalah milik Allah semata. Tujuan hidup ini adalah kembali kepada Allah. Kita diciptakan oleh-Nya dan kembali juga kepada-Nya.
Senin, 21 Maret 2011
Negeri Para Bedebah
Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala
Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah
Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah
Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya
Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan
Karya:Adhie Massardi