Rabu, 25 Juli 2012

Lembaran Senja Baru


Aku berjalan di kala senja. Dibawah pohon – pohon rindang yang melindungiku dari sinar mentari yang masih bersinar. Angin sepoi – sepoi berhembus lembut mengiringi langkah. satu, dua, tiga, bahkan puluhan, ratusan, atau ribuan daun berguguran. Bagaikan musim gugur di negeri barat. Daunnya kuning keemas – emasan tertimpa cahaya. Aku berjalan dengan gontai, mengabaikan tumpukan dedaunan dan debu yang terterjang. Meninggalkan bekas lusuh pada sepasang sepatuku. Tak ada yang bersama lagi seperti dulu. Menghabiskan waktu senja bersama. Beriringan, memandang langit yang indah, memberikan cerita di setiap sorenya. Tangan kami bertautan seakan tak ingin lepas. Sekarang, segalanya berakhir. Meninggalkanku sendiri bersama kenangan dan bayangannya.
                Di depan sana, lelaki itu muncul bagaikan hantu. Entahlah, sepertinya dia sudah terpaku disana di terpa cahaya. segalanya serba hitam, kontras dengan suasana orange di sekitar. Ditangannya tergenggam payung hitam pula. Wajahnya menengadah ke langit. Memejamkan mata, sedikit senyuman, terlihat menenangkan, damai. Aku tak pernah melihatnya setiap kali melintas di taman ini. dia muncul dihadapan ketika tak ada lagi seseorang untuk pegangan. Aku rasakan dalam dada ada yang mengelitik dan mengetarkan. Rasanya sungguh menyenangkan. Aku menatapnya lekat – lekat. Tak sangguh mengalihkan pandangan.
                Tiba – tiba langit gelap. Awan melingkupi langit sore itu. setitik air hujan mulai jatuh ke daratan. Wajahnya yang semula tenang, terlihat terkejut sekilas. Dia menghindari hujan dan berteduh di rerimbunan pohon. Demikian pula diriku. bodohnya aku tak membawa payung dan malah asyik berlama – lama mengamati orang berbaju hitam tak dikenal itu. dia bersiap – siap pergi dengan payung hitam yang telah dikembangkannya. Aku hanya menunduk pasrah menunggu hujan kan mereda. Tetapi aku merasakannya. Merasakan tatapannya padaku. Tak ada suara, tak ada isyarat. Hanya sebuah tatapan mata yang mengartikan sesuatu. Aku bisa membacanya dia menungguku bernaung bersamanya di satu payung. Aku mungiyakan tanpa suara. Melangkah bersama di bawah payung hitam. Dia menjadi penganti yang hilang, untuk berbagi cerita di kala hujan sore. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rabu, 25 Juli 2012

Lembaran Senja Baru


Aku berjalan di kala senja. Dibawah pohon – pohon rindang yang melindungiku dari sinar mentari yang masih bersinar. Angin sepoi – sepoi berhembus lembut mengiringi langkah. satu, dua, tiga, bahkan puluhan, ratusan, atau ribuan daun berguguran. Bagaikan musim gugur di negeri barat. Daunnya kuning keemas – emasan tertimpa cahaya. Aku berjalan dengan gontai, mengabaikan tumpukan dedaunan dan debu yang terterjang. Meninggalkan bekas lusuh pada sepasang sepatuku. Tak ada yang bersama lagi seperti dulu. Menghabiskan waktu senja bersama. Beriringan, memandang langit yang indah, memberikan cerita di setiap sorenya. Tangan kami bertautan seakan tak ingin lepas. Sekarang, segalanya berakhir. Meninggalkanku sendiri bersama kenangan dan bayangannya.
                Di depan sana, lelaki itu muncul bagaikan hantu. Entahlah, sepertinya dia sudah terpaku disana di terpa cahaya. segalanya serba hitam, kontras dengan suasana orange di sekitar. Ditangannya tergenggam payung hitam pula. Wajahnya menengadah ke langit. Memejamkan mata, sedikit senyuman, terlihat menenangkan, damai. Aku tak pernah melihatnya setiap kali melintas di taman ini. dia muncul dihadapan ketika tak ada lagi seseorang untuk pegangan. Aku rasakan dalam dada ada yang mengelitik dan mengetarkan. Rasanya sungguh menyenangkan. Aku menatapnya lekat – lekat. Tak sangguh mengalihkan pandangan.
                Tiba – tiba langit gelap. Awan melingkupi langit sore itu. setitik air hujan mulai jatuh ke daratan. Wajahnya yang semula tenang, terlihat terkejut sekilas. Dia menghindari hujan dan berteduh di rerimbunan pohon. Demikian pula diriku. bodohnya aku tak membawa payung dan malah asyik berlama – lama mengamati orang berbaju hitam tak dikenal itu. dia bersiap – siap pergi dengan payung hitam yang telah dikembangkannya. Aku hanya menunduk pasrah menunggu hujan kan mereda. Tetapi aku merasakannya. Merasakan tatapannya padaku. Tak ada suara, tak ada isyarat. Hanya sebuah tatapan mata yang mengartikan sesuatu. Aku bisa membacanya dia menungguku bernaung bersamanya di satu payung. Aku mungiyakan tanpa suara. Melangkah bersama di bawah payung hitam. Dia menjadi penganti yang hilang, untuk berbagi cerita di kala hujan sore. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar