Sabtu, 20 April 2013

Setiap Perjalan telah Miliki Peta


Jika kita berbicara tentang hidup memang tak pernah ada habisnya. Dari sisi manapun kehidupan itu sungguh mengandung banyak misteri. Manusia memiliki makna sendiri – sendiri tentang hidup ini. Pikiran, perasaan, dan panca indra kita diciptakan berbeda dan menangkap gelombang – gelombang yang memang berbada satu sama lain. Tetapi semestinya ada yang membuat kehidupan ini sama. Mana yang benar dan salah. Mana yang harus dilakukan dan tak layak dilakukan. Semuanya semestinya miliki persepsi yang sama. Dan untuk persoalan pilihan hidup, setiap orang memang berhak memilih jalan hidupnya masing – masing, tetapi ada jalan hidup yang semestinya dipilih karena kita hidup untuk memilih itu. Jalan hidup yang penuh cahaya.
Kebebasan berpikir, kebebasan memilih, tetapi seakan – akan kita lupa ada hal yang membatasinya. Hingga terkadang kebebasan memilih itu menghilangkan sisi kemanusiaannya. Dan apakah itu benar untuk dilakukan?

Kebenaran menjadi relatif untuk masing – masing orang. Padahal kebenaran itu jelas – jelas terlihat yang mana. Tetapi kebebasan berpikir kita, tanpa miliki landasan membuat kita tersesat dan tanpa arah. Kita menganggap kesalahan itu pilihan hidup kita dan mengatakan ini adalah hidup kita. Jangan ikut campur dan urus saja hidupmu sendiri!. Itu bebarapa kata yang  saya dengar dari beberapa orang. Dan menurut saya, ini menunjuk kepada kehidupan manusia yang individualis untuk mencapai tujuan mereka masing – masing. Memang ada saatnya kita menjadi makhluk sosial dan makhluk individu. Tetapi apakah ini memang pada tempatnya ?

Kita menuntut banyak keadilan. Tetapi kita tak pernah sadar apakah kelakuan kita sudah mencerminkan sebuah keadilan untuk orang lain. Apakah yang kita lakukan sesuai dengan kewajiban kita ? dan tidak mengambil hak orang lain ? kita cenderung memikirkan hak – hak yang semestinya kita dapat. Tetapi terkadang mengabaikan kewajiban yang semestinya harus dilakukan. Keadilan, kejujuran, saling mengargai sesama, mengingatkan dalam kebajikan, masihkah kita sering melihatnya dalam kehidupan ini ?
^^
Baru saja saya membaca buku dari Muhammad Husain Haekal dan lebih menyadarkan saya akan satu hal. Kita semua pasti mengaku beragama, mengaku beriman, percaya kepada Allah, malaikat, kitabNya, Nabinya, hari akhir dan takdir. Dan agama itu sendiri mengajarkan kita untuk hidup dan apa yang harus kita lakukan. KitabNya memuat segala yang harus dilakukan dan mana yang tidak semestinya kita lakukan. Dan disini pikiran kita dituntut untuk berpikir lebih dalam, merenunginya bersama, tanpa keluar dari dasar – dasar dan petunjuk yang telah diberikan oleh Sang Pencipta. Dan masih ada Nabi Besar Muhammad SAW yang menjadi teladan sempurna untuk manusia. Itulah petunjuk hidup kita sebagai manusia yang beragama. Tetapi sebagian orang masih sering melupakan bahwa mereka beragama dan telah mengikrarkan keimanannya. Mereka membuat aturan sendiri, kebenaran sendiri, tannpa mau tahu dan menutup pikiran akan sekeliling ala mini, yang memberikan begitu banyak petunjuk untuk kita resapi. 

maaf jika bahasa saya berbelit belit, ada kata - kata yang salah, membingungkan, dan menyinggung pembaca.  saya masih belajar ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sabtu, 20 April 2013

Setiap Perjalan telah Miliki Peta


Jika kita berbicara tentang hidup memang tak pernah ada habisnya. Dari sisi manapun kehidupan itu sungguh mengandung banyak misteri. Manusia memiliki makna sendiri – sendiri tentang hidup ini. Pikiran, perasaan, dan panca indra kita diciptakan berbeda dan menangkap gelombang – gelombang yang memang berbada satu sama lain. Tetapi semestinya ada yang membuat kehidupan ini sama. Mana yang benar dan salah. Mana yang harus dilakukan dan tak layak dilakukan. Semuanya semestinya miliki persepsi yang sama. Dan untuk persoalan pilihan hidup, setiap orang memang berhak memilih jalan hidupnya masing – masing, tetapi ada jalan hidup yang semestinya dipilih karena kita hidup untuk memilih itu. Jalan hidup yang penuh cahaya.
Kebebasan berpikir, kebebasan memilih, tetapi seakan – akan kita lupa ada hal yang membatasinya. Hingga terkadang kebebasan memilih itu menghilangkan sisi kemanusiaannya. Dan apakah itu benar untuk dilakukan?

Kebenaran menjadi relatif untuk masing – masing orang. Padahal kebenaran itu jelas – jelas terlihat yang mana. Tetapi kebebasan berpikir kita, tanpa miliki landasan membuat kita tersesat dan tanpa arah. Kita menganggap kesalahan itu pilihan hidup kita dan mengatakan ini adalah hidup kita. Jangan ikut campur dan urus saja hidupmu sendiri!. Itu bebarapa kata yang  saya dengar dari beberapa orang. Dan menurut saya, ini menunjuk kepada kehidupan manusia yang individualis untuk mencapai tujuan mereka masing – masing. Memang ada saatnya kita menjadi makhluk sosial dan makhluk individu. Tetapi apakah ini memang pada tempatnya ?

Kita menuntut banyak keadilan. Tetapi kita tak pernah sadar apakah kelakuan kita sudah mencerminkan sebuah keadilan untuk orang lain. Apakah yang kita lakukan sesuai dengan kewajiban kita ? dan tidak mengambil hak orang lain ? kita cenderung memikirkan hak – hak yang semestinya kita dapat. Tetapi terkadang mengabaikan kewajiban yang semestinya harus dilakukan. Keadilan, kejujuran, saling mengargai sesama, mengingatkan dalam kebajikan, masihkah kita sering melihatnya dalam kehidupan ini ?
^^
Baru saja saya membaca buku dari Muhammad Husain Haekal dan lebih menyadarkan saya akan satu hal. Kita semua pasti mengaku beragama, mengaku beriman, percaya kepada Allah, malaikat, kitabNya, Nabinya, hari akhir dan takdir. Dan agama itu sendiri mengajarkan kita untuk hidup dan apa yang harus kita lakukan. KitabNya memuat segala yang harus dilakukan dan mana yang tidak semestinya kita lakukan. Dan disini pikiran kita dituntut untuk berpikir lebih dalam, merenunginya bersama, tanpa keluar dari dasar – dasar dan petunjuk yang telah diberikan oleh Sang Pencipta. Dan masih ada Nabi Besar Muhammad SAW yang menjadi teladan sempurna untuk manusia. Itulah petunjuk hidup kita sebagai manusia yang beragama. Tetapi sebagian orang masih sering melupakan bahwa mereka beragama dan telah mengikrarkan keimanannya. Mereka membuat aturan sendiri, kebenaran sendiri, tannpa mau tahu dan menutup pikiran akan sekeliling ala mini, yang memberikan begitu banyak petunjuk untuk kita resapi. 

maaf jika bahasa saya berbelit belit, ada kata - kata yang salah, membingungkan, dan menyinggung pembaca.  saya masih belajar ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar